Fenomena mudik mungkin akan terus berubah mengikuti zaman. Moda transportasi semakin modern, jalan semakin panjang, dan mobilitas manusia semakin cepat. Namun satu hal yang tampaknya tidak akan berubah yakni kerinduan manusia untuk pulang. Karena pada akhirnya, manusia bukan hanya makhluk ekonomi yang berpindah demi pekerjaan. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan akar, kenangan, dan hubungan emosional.
Lebaran setiap tahun seolah mengingatkan kita pada satu kebenaran sederhana “hidup tidak hanya tentang sejauh mana kita pergi, tetapi juga tentang ke mana kita akan kembali”. Sebagaimana bangau yang menjelajah langit luas tetapi tetap kembali ke sarangnya, manusia pun demikian. Kita boleh terbang tinggi mengejar mimpi. Kita boleh berjalan jauh menempuh kehidupan. Namun pada akhirnya, selalu ada satu jalan yang akan memanggilnya kembali, jalan itu bernama “pulang”. Dan selama kampung halaman masih ada, selama masih ada orang tua yang menunggu di beranda rumah, masih ada saudara yang menantikan kedatangannya, masih ada kuliner yang mengundang rasa, masih ada komunitas yang menyimpan rindu, selama masih ada jalan desa yang menyimpan kenangan masa kecil, maka sejauh apa pun manusia terbang dalam kehidupannya, ia akan selalu menemukan satu arah yang sama. Arah menuju rumah yang telah membuatnya tegak berdiri hingga kini.

