BANDUNG BARAT, KANALINDONESIA.COM: Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, suasana belanja pakaian di Pasar Tagog Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, justru terlihat sepi. Kondisi ini dikeluhkan para pedagang karena jumlah pengunjung menurun drastis sehingga berdampak pada anjloknya omzet penjualan hingga lebih dari 70 persen.
Sepinya aktivitas pembeli bahkan membuat belasan ruko pakaian di kawasan pasar tersebut terpaksa tutup karena tidak mampu bertahan di tengah menurunnya penjualan.
Salah seorang pedagang pakaian, Hj Feti (60), yang telah berjualan sejak 1986, mengaku kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya menjelang Lebaran. Menurutnya, maraknya belanja pakaian secara online menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya pengunjung yang datang langsung ke pasar.
“Sekarang pengunjung sangat sepi. Banyak masyarakat lebih memilih belanja online, jadi malas datang langsung ke pasar,” ujar Hj Feti saat ditemui di kiosnya, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan para pedagang. Jika pada tahun-tahun sebelumnya omzet menjelang Lebaran bisa mencapai sekitar Rp10 juta, tahun ini pendapatannya hanya sekitar Rp2,5 juta.
“Biasanya menjelang Lebaran itu ramai sekali. Tapi tahun ini turun jauh. Sampai sekarang omzet saya hanya sekitar Rp2,5 juta,” katanya.
Menurutnya, persaingan harga dengan penjualan online juga menjadi tantangan besar bagi pedagang di pasar tradisional. Produk yang dijual secara daring umumnya lebih murah, sementara pedagang di pasar harus menanggung biaya operasional seperti sewa ruko dan kebutuhan lainnya.
“Kalau di online memang lebih murah, sementara kami di ruko harus bayar sewa tempat dan biaya lainnya,” tambahnya.
Para pedagang memperkirakan kondisi pasar kemungkinan masih akan tetap sepi hingga mendekati Hari Raya Idul Fitri.
Meski demikian, mereka mengaku tetap berusaha bertahan di tengah situasi yang sulit. Para pedagang berharap pemerintah dapat memberikan perhatian dan solusi agar pelaku usaha di pasar tradisional, khususnya di Pasar Tagog Padalarang, dapat tetap bersaing dengan penjualan online.
“Kami berharap pemerintah bisa membantu pelaku usaha di pasar ini. Mudah-mudahan ada solusi untuk kondisi yang sedang kami alami,” pungkasnya. (Fey)

