JOMBANG, KANALINDONESIA.COM: Kekhawatiran orang tua terhadap perubahan perilaku anak-anak muda di Kabupaten Jombang kian mencuat. Fenomena ini mendorong Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, untuk menekankan kembali pentingnya pendidikan keluarga berbasis kearifan lokal sebagai benteng utama pembentukan karakter generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Wiwin dalam sarasehan bertajuk “Penguatan Pendidikan Keluarga Berbasis Kearifan Lokal” yang digelar di aula Hotel Fatma, Jombang, Minggu (19/4/2026) siang. Kegiatan ini diikuti ratusan pemuda yang aktif berdiskusi mengenai tantangan pendidikan di era modern.
Dalam forum itu, Wiwin mengungkapkan, ia kerap menerima keluhan dari para orang tua terkait perubahan sikap anak-anak mereka. Perubahan tersebut, menurut dia, terlihat dari pola pergaulan hingga menurunnya sikap hormat di lingkungan keluarga.
“Banyak orang tua mengadu soal perubahan karakter anak-anaknya. Mulai dari pergaulan hingga sikap di rumah yang dinilai tidak lagi mencerminkan nilai kesopanan,” kata Wiwin.
Ia menilai, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari melemahnya peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai budaya sejak dini. Padahal, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kepribadian anak.
Karena itu, Wiwin mendorong orang tua untuk kembali mengenalkan tradisi serta nilai-nilai luhur warisan budaya kepada anak-anak mereka. Upaya ini dinilai penting agar generasi muda tetap memiliki pijakan identitas di tengah derasnya arus globalisasi.
“Anak-anak perlu dikenalkan kembali pada budaya dan kearifan lokal. Dari sana akan tumbuh rasa memiliki dan bangga terhadap jati diri mereka,” ujarnya.
Selain penguatan nilai budaya, Wiwin juga menyoroti pentingnya pola komunikasi dalam keluarga. Ia mengingatkan agar orang tua mengedepankan pendekatan yang lembut dan penuh kesabaran dalam mendidik anak.
Menurut dia, komunikasi yang baik akan mempermudah anak dalam menerima arahan tanpa merasa tertekan.
Di sisi lain, Wiwin menilai pengaruh budaya luar dan penggunaan gawai menjadi tantangan serius dalam pembentukan karakter anak. Ia mengingatkan orang tua untuk lebih aktif melakukan pendampingan terhadap aktivitas digital anak.
“Penggunaan gadget harus diawasi. Jika tidak memberikan dampak positif atau tidak mendorong kreativitas, sebaiknya dibatasi,” tuturnya.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung mulai ditinggalkannya budaya lokal, termasuk kuliner tradisional, yang sejatinya memiliki nilai gizi lebih baik dibanding makanan modern yang kini digemari anak muda.
Wiwin berharap, upaya penguatan karakter tidak hanya dilakukan di lingkungan keluarga, tetapi juga didukung oleh sistem pendidikan. Ia mendorong pemerintah untuk merancang kurikulum yang seimbang antara pencapaian akademik dan penanaman nilai budaya.
“Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan tetap berakar pada budaya bangsa,” pungkasnya. (Fa’iz)

