TUBAN, KANALINDONESIA.COM: Warga Kabupaten Tuban belakangan mulai merasakan suhu udara yang lebih panas dan gerah, terutama hingga malam hari. Kondisi tersebut disebut menjadi tanda awal peralihan menuju musim kemarau.
Kepala Stasiun BMKG Kelas III Tuban, Muchamad Nur, menjelaskan intensitas curah hujan di Tuban dalam beberapa waktu terakhir memang mulai berkurang.
“Jika dilihat dari hasil pengamatan cuaca di Stasiun Meteorologi Tuban beberapa waktu terakhir ini memang intensitas curah hujan sudah berkurang. Suhu udara juga terpantau di sekitar 30 derajat Celsius hingga malam hari, jadi wajar jika yang dirasakan udaranya panas dan gerah,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (11/5/2026).
Ia mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi mulai berkurangnya tutupan awan di wilayah Tuban. Akibatnya, sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa banyak hambatan.
“Karena tutupan awan yang mulai sedikit. Semakin sedikit awan, maka sinar matahari akan langsung dirasakan permukaan bumi tanpa adanya halangan awan,” tambahnya.
Selain itu, BMKG menyebut fenomena tersebut juga dipengaruhi mulai masuknya angin muson timur yang identik dengan musim kemarau di Indonesia.
BMKG memprediksi wilayah Tuban mulai memasuki musim kemarau secara menyeluruh pada akhir Mei hingga awal Juni 2026.
“Jika cuaca bertahan seperti ini, lambat laun akan dirasakan udara dingin di malam hari yang merupakan ciri khas musim kemarau,” tandasnya.
Untuk musim kemarau tahun ini, BMKG memperkirakan kondisi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Niño.
“Untuk kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan panjang karena adanya El Nino,” katanya.
Pada Mei 2026, curah hujan di Tuban diprediksi berada pada kategori rendah, yakni sekitar 51–100 mm. Sementara selama musim kemarau, curah hujan bulanan diperkirakan hanya berkisar 0–50 mm.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan prediksi curah hujan melalui situs resmi BMKG Jawa Timur. (Najib)

