JOMBANG, KANALINDONESIA.COM: Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Wiwin Sumrambah menggelar kegiatan sosialisasi bertajuk “Sosialisasi Pemberdayaan Sosial Untuk Membangun Kemandirian Rakyat” di Aula Bale Tani, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jumat (22/5/2026) siang.
Kegiatan tersebut dihadiri ratusan warga dari berbagai desa di wilayah Kecamatan Bareng dan sekitarnya. Mayoritas peserta yang hadir merupakan kalangan guru dan pegiat pendidikan yang antusias mengikuti jalannya acara hingga selesai.
Dalam sambutannya, Wiwin Sumrambah menyoroti derasnya arus perubahan budaya yang terjadi di tengah masyarakat modern saat ini. Ia menilai perkembangan teknologi yang begitu cepat membawa dampak besar terhadap pola kehidupan keluarga, terutama dalam proses pendidikan karakter anak.
Menurutnya, kesibukan orang tua saat ini membuat banyak keluarga mulai melupakan pentingnya menanamkan nilai-nilai budaya dan tradisi leluhur kepada anak-anak mereka. Kondisi tersebut, kata dia, membuat generasi muda lebih mudah terpengaruh budaya luar yang perlahan mengikis nilai sopan santun dan penghormatan terhadap orang tua.
“Pergeseran budaya saat ini terjadi begitu cepat. Di tengah kesibukan sehari-hari, banyak keluarga yang tanpa sadar mulai lupa menyampaikan sekaligus menerapkan budaya leluhur kepada anak-anaknya. Akibatnya, anak-anak mudah tergerus budaya luar hingga perlahan kehilangan panutan terhadap orang tua,” ujar Wiwin Sumrambah, Legislator dari Fraksi PDI-Perjuangan.
Ia juga menyoroti perubahan pola interaksi sosial anak-anak di era digital. Menurut Wiwin, sebagian besar waktu generasi muda kini lebih banyak dihabiskan bersama teknologi dibandingkan berinteraksi langsung dengan keluarga maupun lingkungan sekitar.
“Norma kehidupan anak-anak sekarang banyak dipengaruhi teknologi. Mereka lebih akrab dengan AI, internet, dan Google dibandingkan komunikasi bersama keluarga. Ini menjadi tantangan besar bagi kita semua karena tanpa disadari terjadi penjajahan budaya melalui teknologi,” katanya.
Tak hanya dari sisi teknologi, Wiwin juga menilai pergeseran budaya terjadi melalui perubahan pola konsumsi masyarakat, khususnya makanan. Maraknya tren kuliner modern dan makanan luar negeri disebut perlahan membuat anak-anak melupakan makanan rumahan yang sarat nilai kebersamaan keluarga.
“Anak-anak sekarang lebih mengenal makanan kekinian dibandingkan menikmati masakan ibunya sendiri di rumah. Padahal dari situlah sebenarnya kehangatan keluarga dan nilai budaya terbentuk,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat berdampak terhadap pembentukan karakter anak, baik di lingkungan keluarga maupun kehidupan sosial di masyarakat. Karena itu, melalui kegiatan sosialisasi tersebut, Wiwin mengajak masyarakat untuk kembali memperkuat nilai budaya lokal dan kearifan tradisional sebagai fondasi membangun kemandirian rakyat.
“Melalui kegiatan ini kita ingin bersama-sama tetap mengenal, menjaga, dan melestarikan budaya nenek moyang agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” ucapnya.
Selain membahas persoalan sosial dan budaya, Wiwin Sumrambah juga menyoroti isu ketahanan pangan nasional dalam menghadapi potensi musim kemarau panjang atau fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi dalam skala cukup ekstrem.
Ia mengaku khawatir apabila pemerintah dan masyarakat tidak melakukan langkah antisipasi sejak dini, maka ketersediaan bahan pangan dapat terganggu akibat dampak musim kemarau berkepanjangan.
“Perkiraan El Nino berkepanjangan harus menjadi perhatian bersama. Kita perlu mempelajari dan mengantisipasi sejak awal agar stok kebutuhan pangan masyarakat tetap aman,” katanya.
Wiwin juga berharap pemerintah lebih serius memperkuat sektor pangan nasional dan tidak terus-menerus bergantung pada kebijakan ekspor berbagai kebutuhan pokok di tengah ancaman krisis iklim global.

