Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Daerah

TTL dan APTRINDO Surabaya Perkuat Sinergi untuk Kelancaran Arus Logistik

TTL dan APTRINDO Surabaya Perkuat Sinergi untuk Kelancaran Arus Logistik

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM : PT Terminal Teluk Lamong (TTL) dan Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (DPC APTRINDO) Kota Surabaya mempererat kolaborasi strategis guna meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan. Pertemuan yang digelar di Kantor TTL, Kamis (4/6), menjadi momentum untuk menyelaraskan pola distribusi logistik agar lebih lancar dan berkelanjutan.

Dalam forum dialog tersebut, Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David P. Sirait, menekankan pentingnya kedisiplinan jadwal kedatangan kendaraan. Meskipun terminal memiliki kapasitas lapangan penumpukan hingga 1,4 juta TEUs per tahun dan teknologi otomasi yang mumpuni, tantangan utama saat ini terletak pada distribusi kedatangan truk yang masih belum merata.

“Kapasitas terminal kami memadai, namun kendalanya adalah penumpukan truk di slot waktu yang sama. Kami mendorong agar pengguna jasa lebih disiplin mengikuti jadwal yang telah ditentukan dalam Terminal Booking System (TBS) Stage 2,” ujar David.

Data menunjukkan tingkat kepatuhan terhadap sistem TBS baru mencapai 33 persen. Kedisiplinan ini dianggap krusial untuk menekan angka antrean di gerbang (gate) serta memaksimalkan utilisasi peralatan terminal. Sebagai dukungan, TTL telah menyediakan fasilitas Green Shelter dengan kapasitas 66 unit truk sebagai area tunggu yang nyaman bagi pengemudi.

Ketua DPC APTRINDO Kota Surabaya, I Wayan Sumadita, menyambut positif upaya transformasi ini. Pihaknya berkomitmen untuk mendukung kebijakan operasional terminal, termasuk mendorong anggota APTRINDO agar lebih tertib jadwal.

“Kami mengapresiasi keterbukaan manajemen TTL. Masukan dari teman-teman pengusaha truk, seperti kebutuhan jalur khusus reefer dan optimalisasi buffer area, direspons dengan sangat konstruktif,” jelas Wayan.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan perusahaan logistik Bigtrans, Mila, turut memberikan catatan positif atas perbaikan layanan TTL dari tahun ke tahun.

Menurutnya, dialog terbuka ini menjadi kunci untuk memecahkan hambatan operasional di lapangan.
Ke depan, kedua belah pihak sepakat bahwa efisiensi logistik nasional bukan hanya tanggung jawab pengelola terminal, melainkan hasil kolaborasi erat antara operator dan pelaku usaha transportasi. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pelabuhan yang lebih andal, aman, dan berdaya saing di Jawa Timur. (SNT)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita