JAKARTA, KANALINDONESIA.COM : Sejak pagi, ratusan warga berdatangan ke Gedung GBI Patoembak Cibubur yang menjadi rumah besar masyarakat Sumba Barat Daya (SBD) yang bermukim di Jabodetabek. Mereka datang bukan sekadar menghadiri sebuah pelantikan organisasi, tetapi juga merayakan semangat persaudaraan yang telah lama mengikat mereka jauh dari tanah kelahiran.
Suasana adat terasa kental ketika Dewan Pimpinan Pusat Insan Keluarga Besar Sumba (IKBS) tiba dengan prosesi tradisional membawa seekor babi yang kemudian dikorbankan sebagai bagian dari rangkaian pelantikan pengurus Ikatan Keluarga Asal Sumba Barat Daya (Ikalsabda). Ritual itu menjadi simbol penghormatan sekaligus peneguhan komitmen kebersamaan.
Sebanyak 400 peserta memadati gedung untuk menyaksikan pelantikan Kolonel Gerardus Maliti, S. Sos., M.Si sebagai Ketua Ikalsabda Jabodetabek periode 2026-2031. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Umum Insan Keluarga Besar Sumba (IKBS) Hermanus Malo Dona. Setelah resmi dikukuhkan, Gerardus kemudian melantik jajarannya.
Namun, bagi banyak orang yang hadir, acara itu lebih dari sekadar seremonial pergantian kepemimpinan. Di hadapan para tokoh masyarakat, sesepuh, pemuda dan keluarga besar Sumba Barat Daya, Gerardus menyampaikan sebuah refleksi tentang makna kepemimpinan yang menggugah. ”Saya menerima amanah ini karena panggilan jiwa,” katanya saat awali sambutan.
Dari sana, ia mengajak hadirin memandang kepemimpinan bukan sebagai kehormatan, melainkan sebagai kegelisahan yang terus hidup.
Pemimpin Gelisah
Menurutnya, seorang pemimpin harus gelisah ketika melihat rakyatnya kelaparan. Gelisah melihat kemiskinan yang masih membelenggu. Gelisah ketika anak-anak putus sekolah, rumah-rumah masih reyot, dan ketertinggalan terus berlangsung. “Tetapi kegelisahan saja tidak cukup. Kegelisahan harus berubah menjadi gerakan,” tegasnya.
Baginya, seorang pemimpin wajib mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki yaitu pengetahuan, jaringan, relasi, bahkan jabatan yang dipercayakan kepadanya. Semua itu harus digunakan untuk satu tujuan, yakni mengangkat martabat masyarakat yang dipimpinnya.
Di bawah kepemimpinannya kata Kolonel Gerardus Maliti, Ikalsabda tidak boleh sekadar menjadi tempat berkumpul atau ruang bernostalgia tentang kampung halaman. Organisasi ini harus menjadi wadah persatuan masyarakat Sumba Barat Daya, tempat lahirnya gagasan, kader, jejaring, dan pengabdian bagi kemajuan daerah.
“Pentingnya hubungan erat antara Ikalsabda dan IKBS. Masa depan Sumba tidak bisa dibangun oleh satu kelompok saja. Tidak bisa dibangun oleh satu kabupaten saja. Kita boleh berasal dari SBD, tetapi kita adalah orang Sumba,” ujarnya.
Di matanya, masyarakat luar tidak melihat empat kabupaten yang ada di Pulau Sumba. Mereka hanya mengenal satu identitas besar: Sumba.
Karena itu, ia mendorong lahirnya lebih banyak kader unggul dari rahim Ikalsabda. Bukan hanya pemimpin di tingkat desa atau kabupaten, tetapi juga birokrat, akademisi, pengusaha, profesional, dan politisi berintegritas yang mampu berkiprah di tingkat nasional.
Lebih jauh lagi, Gerardus membayangkan suatu masa pemimpin Sumba Barat Daya dapat memainkan peran sebagai penghubung informal yang mempererat komunikasi dan kolaborasi empat kabupaten di Pulau Sumba demi kepentingan bersama.
Untuk menggambarkan gagasan itu, ia mengingatkan hadirin pada sosok almarhum Umbu Mehang Kunda yang pernah dihormati sebagai figur pemersatu para bupati di Sumba.
“Bukan karena kekuasaan formal, tetapi karena ketokohan, kebijaksanaan, dan kemampuannya merangkul semua pihak,” katanya.
Dalam bagian yang paling menyentuh dari pidatonya, Gerardus mengajak masyarakat memaknai kembali gelar-gelar tradisional yang selama ini melekat dalam budaya Sumba seperti Umbu dan Rato.
Umbu dan Rato adalah Panggilan Melayani

