Untuk memastikan aspirasi tersebut tidak berhenti sebagai catatan reses, Sri Wahyuni berkomitmen membawa persoalan tersebut ke dalam pembahasan bersama pihak-pihak terkait.
Renovasi balai desa akan didorong melalui pemetaan kebutuhan dan skema bantuan pembangunan yang sesuai. Sementara untuk renovasi TK Aisyiyah, kondisi bangunan dan kebutuhan fasilitas akan menjadi dasar pengajuan bantuan.
Sedangkan untuk pembangunan saluran pengairan, diperlukan koordinasi antara pemerintah desa, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, serta instansi teknis terkait. Sebab, pengelolaan sumber daya air dan pembangunan jaringan irigasi membutuhkan kajian lintas kewenangan.
Sri Wahyuni menegaskan, kegiatan reses merupakan kesempatan untuk mendengar langsung persoalan masyarakat sekaligus mencari jalan keluar yang realistis.
“Reses bukan hanya mendengar aspirasi, tetapi juga bagaimana aspirasi itu bisa dikawal agar ada tindak lanjut. Kita harus melihat mana yang bisa segera dilakukan dan mana yang membutuhkan perencanaan jangka panjang,” ujarnya.
Menurutnya, tiga aspirasi warga Tlogoagung tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan kebutuhan dasar masyarakat. Balai desa yang layak akan memperkuat pelayanan publik, sekolah yang nyaman akan mendukung pendidikan anak, sedangkan pengairan yang baik akan membantu menjaga keberlanjutan pertanian.
Karena itu, Sri Wahyuni berharap seluruh aspirasi yang disampaikan warga dapat segera ditindaklanjuti melalui perencanaan yang jelas, data yang akurat, serta koordinasi antarinstansi.
“Kalau semua pihak bergerak bersama dan perencanaannya jelas, persoalan-persoalan ini bisa dicari solusinya secara bertahap. Yang paling penting, kebutuhan masyarakat harus menjadi dasar dalam menentukan prioritas pembangunan,” pungkasnya. Nang

