Menariknya, pencatatan penggunaan dan perawatan mesin tidak lagi hanya dilakukan secara manual. Tim mengembangkan dan menerapkan aplikasi berbasis Android yang mencatat riwayat peminjaman serta perawatan mesin oleh anggota kelompok tani.

Melalui aplikasi tersebut, kelompok dapat mengetahui siapa yang menggunakan mesin, riwayat peminjaman, serta kegiatan perawatan yang telah dilakukan. Pencatatan digital ini diharapkan meningkatkan akuntabilitas pengelolaan aset kelompok sekaligus mempermudah pemantauan jadwal perawatan sehingga potensi kerusakan dan downtime mesin dapat ditekan.
Selain pencatatan digital, kelompok juga didampingi dalam pengelolaan data produksi dan pembukuan sederhana, seperti jumlah kopi yang diproses, jam operasi, penggunaan bahan bakar dan oli, biaya pemeliharaan, serta hasil produksi. Data tersebut dapat digunakan untuk menghitung biaya pengolahan per kilogram dan menjadi dasar pengambilan keputusan usaha.
Tim menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari kemampuan mesin bekerja lebih cepat. Peningkatan produktivitas harus mampu dikonversi menjadi peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan kelompok tani.
Dengan kapasitas pengupasan yang mencapai satu ton per jam, petani berpeluang menghasilkan output yang lebih besar dengan jumlah jam kerja yang sama. Sebaliknya, volume produksi tertentu dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat. Efisiensi tersebut diharapkan dapat menekan biaya pengolahan sekaligus meningkatkan pendapatan bersih rata-rata per jam kerja.
Program ini juga diarahkan untuk menutup trust gap atau kesenjangan kepercayaan terhadap teknologi tepat guna. Teknologi tidak cukup hanya tersedia, tetapi kinerjanya harus terukur, konsisten, terdokumentasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, keberhasilan kegiatan dievaluasi menggunakan pendekatan before–after melalui perbandingan kapasitas produksi, waktu kerja, kualitas hasil kupasan, biaya operasional, tingkat kerusakan biji, hingga pendapatan bersih sebelum dan sesudah penggunaan mesin hasil redesain. Pendekatan ini sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 8, terutama terkait peningkatan produktivitas, pekerjaan layak, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Perjalanan inovasi dari KKN Tematik Fakultas Teknik UMPO 2025 hingga Hibah PKM Kemendiktisaintek 2026 menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dibangun melalui proses yang berkelanjutan: teknologi diciptakan, digunakan, dievaluasi, lalu disempurnakan berdasarkan pengalaman masyarakat sebagai pengguna.
Melalui kombinasi redesain mesin berkapasitas satu ton per jam, standardisasi pengoperasian, pelatihan petani, dan aplikasi Android untuk pengelolaan peminjaman serta perawatan mesin, program ini diharapkan tidak hanya memperkuat proses pascapanen kopi Sambiganen, tetapi juga mendorong tata kelola kelompok tani yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan.

