DEPOK, KANALINDONESIA.COM: Majelis Dzikir Surau Qutubul Amin (SQA), Depok, Jawa Barat menggelar upacara bendera memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 81 di lapangan serbaguna Surau Qutubul Amin, Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari Depok, pada Senin (17/8/2026).
Upacara mengenang jasa jasa para syuhada, mujahidin, atau pahlawan pejuang kemerdekaan Indonesia ini diikuti para jamaah majelis dzikir yang merupakan pengamal tarekat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah, khususnya yang tersebar di wilayah Jabodetabek.
”Upacara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI seperti ini sudah dilazimkan Guru Rohani tarekat kami, sejak Beliau belum berlindung (wafat, red),” kata Ketua Majelis Silaturahmi Qutubul Amin H Suroso Surya Atmadja
Hadir dalam upacara itu, Pembina Yayasan Qutubul Amin (QA), Dra Hj Erlina Kadirun Yahya, isteri terkasih sang Guru Rohani atau waliyyam mursyidah tarekat tersebut, yakni Maulana Prof Dr Sayyidi Saikh Kadirun Yahya Muhammad Amin Al Khalidi.
Turut hadir dalam upacara tersebut, selain H Suroso Surya Atmadja juga Ketua Yayasan Qutubul Amin Ir Sinar Yudha dan pengurus lainnya. Dan, fungsionaris SQA, Irjen Pol (Purn) Istiono, Brigjen Pol (Purn) Eko Nugrohadi, dan para petugas tarekat se-wilayah Jabodetabek.
Sebagai prajurit veteran berpangkat jenderal bintang satu di era Pemerintahan Presiden RI pertama Ir Soekarno, sang Profesor pada masa revolusi fisik berperan sebagai pejuang kemerdekaan RI, dan pernah memimpin industri perang di wilayah komandemen Sumatera pertengahan tahun 1940-an.
“Pasca kemerdekaan, Beliau sebagai tokoh Sufi dunia yang diakui Presiden Soekarno, turut pula berperan dalam pembebasan Irian Barat dari penguasaan kolonial,” kata Haji Suroso.
Dalam prosesi upacara HUT RI ke 81 itu, menampilkan pasukan pengibar bendera (Paskibra) yang berjumlah 25 remaja. Mereka terdiri dari Gen Z yang bertarekat. Meliputi pelajar SMP hingga mahasiswa.
”Saya masuk tarekat diarahkan papa dan mama. Saya delapan kali suluk.Sebagian besar anggota Paskibra juga sudah masuk tarekat,” kata Reno, yang mama dan papanya masuk tarekat juga sejak usia muda.
Paskibra selama beraksi dari mulai mevariasikan baris berbaris hingga mengibarkan bendera merah putih, dan meneriakkan yel yel nampak memukau undangan.
Suasana peserta upacara pun terlihat cukup menarik perhatian, karena tidak mengesankan secara mencolok jamaah tarekat. Mereka rata rata berbusana khas mengekspresikan rasa nasionalisme. Selain mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, juga seragam batik.
”Tidak menyangka karena (imij) orang tarekat itu kan khusuk wiridan,” kata Pak Ade, wirausaha yang bapak dua anak, peserta upacara. Apalagi, jamaah tarekat yang biasa diliput teve nasional kerap menampilkan berita yang kontroversial.
Paskibra ini dilatih khusus oleh pelatih dari TNI yang juga jamaah, yakni Serda (Purn TNI AD) Sarjito. Prosesi aksinya tidak kalah dengan Paskibra pada umumnya.
”Tidak kalah dengan Paskibra di luar, meski latihannya tidak lebih berat,” kata Minto, peserta upacara yang putrinya jadi anggota Paskibra di salah satu SMA.
”Latihan selama dua bulan. Suasana latihan enjoy, tidak berat dan stres, hasilnya ya kata orang-orang sih bagus” kata Reno, yang tamat SMA tahun lalu itu.
Inspektur upacara, Suyanto saat membacakan pesan akhir amanat upacara, menyampaikan pesan dengan mengutip lima poin pedoman hidup yang diajarkan Profesor Kadirun Yahya.

