Saat keluar rumah, gunakan pakaian yang menutupi kulit, seperti baju lengan panjang dan celana panjang. Setelah kembali ke rumah, segera mandi dan mengganti pakaian.
Pasokan air dan makanan juga perlu dijaga. Tutup rapat tandon, sumur maupun wadah penyimpanan air agar tidak kemasukan abu. Buah dan sayuran harus dicuci menggunakan air bersih sebelum dikonsumsi atau diolah.
- Jangan Abaikan Kondisi Psikologis Anak
Erupsi gunung dan hujan abu bukan hanya persoalan kesehatan fisik. Situasi tersebut juga dapat membuat anak takut atau cemas.
Orang tua perlu menyampaikan informasi sesuai usia anak dengan bahasa sederhana dan menenangkan.
Untuk anak usia 3–5 tahun, misalnya, orang tua dapat menjelaskan bahwa kondisi gunung sedang tidak aman sehingga keluarga perlu bermain di dalam rumah.
Anak usia 6–10 tahun dapat diberikan penjelasan mengenai abu vulkanik dan alasan pintu serta jendela harus ditutup.
Sementara remaja dapat dilibatkan dalam persiapan keluarga, seperti membantu menyiapkan tas siaga bencana.
Orang tua juga perlu membatasi paparan video atau konten bencana yang berlebihan di media sosial. Jika anak menunjukkan rasa takut, dengarkan keluhannya dan berikan rasa aman bahwa keluarga telah melakukan langkah-langkah perlindungan.
- Kenali Tanda Bahaya Kesehatan
Masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah terpapar abu vulkanik.
Segera bawa anggota keluarga ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami sesak napas, napas sangat cepat, bibir atau ujung jari membiru, maupun batuk terus-menerus yang tidak kunjung membaik.
Gangguan mata juga harus mendapat perhatian. Mata merah disertai nyeri hebat yang tidak membaik setelah dibilas dengan air bersih memerlukan pemeriksaan medis.
Khusus bayi, kondisi sangat lemas, rewel berlebihan atau malas menyusu juga menjadi tanda yang perlu segera diperiksakan.
Siapkan Perlengkapan Darurat di Rumah
Selain melakukan perlindungan sehari-hari, keluarga juga dianjurkan menyiapkan perlengkapan darurat selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Beberapa kebutuhan yang sebaiknya tersedia antara lain cadangan masker, kacamata pelindung, air minum, makanan yang tidak mudah basi, senter, lampu darurat, radio baterai, baterai cadangan, kotak P3K dan obat-obatan pribadi.
Peralatan elektronik juga dapat dilindungi menggunakan plastik atau penutup agar tidak kemasukan abu.
Alat untuk membersihkan abu seperti sekop, kain pel dan perlengkapan lainnya juga sebaiknya disiapkan.
Yang terpenting, masyarakat tidak perlu panik. Tetap ikuti informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau, kurangi aktivitas di luar ruangan ketika hujan abu terjadi, dan prioritaskan keselamatan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia serta warga dengan gangguan pernapasan.
Kewaspadaan dan kesiapsiagaan keluarga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kesehatan selama kondisi erupsi masih berlangsung.

