PACITAN, KANALINDONESIA.COM: Krisis air bersih di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, semakin meluas pada puncak musim kemarau 2026. Hingga awal September, sedikitnya 36.120 jiwa atau 13.195 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan yang menyebar ke 57 desa, 186 dusun, dan 393 RT.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan distribusi air bersih meningkat tajam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan kini mengerahkan rata-rata 70 rit tangki air bersih setiap hari untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pacitan, Erwin Andriatmoko, mengatakan jumlah wilayah yang mengajukan bantuan air bersih mengalami peningkatan signifikan dibandingkan Agustus 2026.
“Hingga saat ini, sebanyak 57 desa mengajukan permohonan dropping air. Secara total, kekeringan telah berdampak pada 186 dusun, 393 RT, dengan jumlah korban mencapai 13.195 KK atau 36.120 jiwa,” ujar Erwin.
Menurut Erwin, BPBD tidak serta-merta memenuhi seluruh permohonan distribusi air. Petugas terlebih dahulu melakukan verifikasi administrasi dan asesmen lapangan untuk memastikan bantuan benar-benar menyasar wilayah yang mengalami kondisi darurat air.
“Kami tidak bisa memukul rata intensitas pengiriman. Dasarnya adalah jumlah jiwa dikalikan kebutuhan air dasar,” tegas Erwin.
Persoalan kekeringan kini tidak hanya terjadi di kawasan perbukitan dan pedesaan. Sejumlah kawasan perkotaan Pacitan, seperti Sidoharjo, Pojok, Pancer, Ploso, hingga sebagian Tanjungsari, mulai mengalami penurunan debit sumur secara drastis.
Di Desa Mantren, Kecamatan Punung, misalnya, krisis air paling parah terjadi di Dusun Nglarangan RT 04. Sedikitnya 33 KK atau sekitar 120 jiwa menghadapi krisis air total karena wilayah tersebut belum terjangkau jaringan Pamsimas secara optimal.
Kaur Kesra Desa Mantren, Pujianto, mengatakan keterbatasan jaringan air membuat sebagian warga harus menunggu giliran pasokan.
“Pamsimas belum bisa maksimal. Kalau di wilayah utara itu air hanya mengalir hari Senin dan Kamis, selain itu digilir,” ungkap Pujianto, Rabu (9/9/2026).
Kondisi serupa terjadi di sejumlah wilayah lain. Warga bahkan harus menempuh jarak ratusan meter untuk mendapatkan sumber air alternatif. Situasi tersebut semakin berat bagi warga lanjut usia yang harus membawa air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kemarau Diprediksi Berlangsung hingga November
Ancaman kekeringan juga belum menunjukkan tanda segera berakhir. Berdasarkan prakiraan BMKG yang dikutip BPBD Pacitan, periode kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga November 2026.
Pemerintah daerah karena itu tidak cukup hanya mengandalkan distribusi air menggunakan tangki. Penguatan jaringan perpipaan, optimalisasi Pamsimas, perlindungan sumber mata air, serta pembangunan cadangan air menjadi kebutuhan penting untuk mengurangi ketergantungan warga terhadap bantuan air setiap musim kemarau.
Di sisi lain, kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. BNPB mencatat kebakaran terjadi di Desa Widoro, Kecamatan Pacitan, serta Desa Karangrejo dan Gayuhan, Kecamatan Arjosari, pada 1 September 2026. Total sekitar 3 hektare lahan terbakar, meski api kemudian berhasil dipadamkan.
Dengan kondisi tersebut, krisis air bersih kini bukan sekadar persoalan kekurangan pasokan di desa-desa rawan kekeringan. Meluasnya dampak hingga kawasan perkotaan menjadi sinyal bahwa pemerintah Kabupaten Pacitan perlu mempercepat strategi ketahanan air sebelum musim kemarau berikutnya kembali datang.

