JAKARTA, KANALINDONESIA.COM: Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan keprihatinan atas perkembangan politik nasional yang dinilainya semakin mengkhawatirkan. Ia menyoroti praktik perebutan kekuasaan yang dianggap mulai mengabaikan etika, moral, serta kepentingan masyarakat.
Melalui pernyataan di akun media sosial resminya, Rabu (4/11/2026), SBY secara terbuka meminta Presiden Prabowo Subianto mengambil peran untuk mengembalikan kehidupan politik Indonesia ke jalur yang lebih beradab.
Keprihatinan tersebut disampaikan SBY setelah melihat dinamika politik yang menurutnya memperlihatkan kecenderungan penggunaan berbagai cara demi memperoleh kekuasaan, tanpa mempertimbangkan nilai kepatutan.
“Kok jadi begini negara kita. Kok liar begini politik kita,” tulis SBY dalam pernyataannya.
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu menilai, persaingan mendapatkan kekuasaan tidak seharusnya menghalalkan segala cara. Menurutnya, praktik politik tetap harus berlandaskan moralitas dan tanggung jawab terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Sepertinya untuk mendapatkan kekuasaan (political power) cara apapun dibenarkan. Tidak peduli baik atau buruk. Bermoral atau tidak bermoral,” ungkapnya.
Mantan presiden yang memimpin Indonesia selama dua periode, 2004–2014, tersebut juga mengingatkan dampak buruk apabila persaingan politik semakin jauh dari nilai etika.
Menurut SBY, kondisi politik yang tidak sehat berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Ia tidak ingin rakyat justru merasa takut dan kehilangan ketenteraman ketika menjalani kehidupan di negaranya sendiri.
“Saya khawatir kalau akhirnya rakyat merasa takut dan tidak tenteram hidup di negaranya sendiri,” tulisnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan perhatian SBY tidak hanya tertuju pada persaingan di kalangan elite politik, tetapi juga dampaknya terhadap kehidupan masyarakat luas.
Ia berharap para pemegang kekuasaan dan seluruh elemen bangsa tetap mengedepankan kepentingan negara dibandingkan ambisi politik maupun kepentingan kelompok.
Dalam pernyataannya, SBY secara khusus menyampaikan harapan kepada Presiden Prabowo Subianto agar mampu memperbaiki iklim politik nasional.
Ia meminta kepala negara menghidupkan kembali praktik politik yang menjunjung tinggi etika, moralitas, dan penghormatan terhadap nilai-nilai demokrasi.
“Sebagai warga bangsa yang sangat mencintai negeri ini, seperti juga warga negara Indonesia yang lain, saya bermohon kepada Presiden Prabowo untuk menghidupkan kembali politik yang berkeadaban,” tulis SBY.
SBY menyebut harapan tersebut bukan sekadar permintaan pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Ini panggilan sejarah. Ini amanah rakyat. Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan tuntunan kepada Pak Prabowo untuk menjalankan misi mulia ini,” lanjutnya.
Pernyataan SBY tersebut muncul ketika perhatian publik tengah tertuju pada dinamika politik dan penegakan hukum, khususnya pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Bareskrim Polri sebelumnya mengumumkan penetapan tiga perwira tinggi Polri sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyadapan tanpa prosedur yang sah. Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, bersama Irjen Ahrie Sonta Nasution dan Irjen Eko Hadi Santoso.
Penyidik menduga praktik penyadapan berlangsung pada periode 2025–2026 dan menyasar sejumlah nomor telepon, termasuk milik Presiden Prabowo. Selain itu, sejumlah pejabat negara, tokoh politik, insan media, organisasi masyarakat, hingga kalangan pengusaha juga disebut masuk dalam sasaran dugaan penyadapan.
Aparat penegak hukum masih mendalami perkara tersebut, termasuk dugaan keterlibatan masing-masing pihak dan tujuan tindakan yang dilakukan. Penetapan tersangka merupakan bagian dari proses hukum dan belum menjadi putusan bersalah.

