PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Ponorogo sukses menggelar Musyawarah Pimpinan Daerah (Musypimda) I di Aula Lantai 2 Gedung Dakwah ‘Aisyiyah Ponorogo.
Ketua Panitia, Dra. Hj. Sri Hidayah, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa Musypimda ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kontribusi ‘Aisyiyah dalam membangun masyarakat yang adil dan berkemajuan. Forum ini juga berfungsi sebagai evaluasi tengah periode terhadap kepemimpinan PDA Ponorogo 2022–2027, serta menjadi ajang untuk merumuskan strategi-solusi dalam menjawab tantangan zaman.
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua PDA Ponorogo, Hj. Titi Listyorini, S.H., yang menegaskan tema besar Musypimda I, yakni “Dinamisasi Perempuan Berkemajuan Mewujudkan Ponorogo Berkeadilan.” Ia mengajak seluruh kader untuk memperkuat peran ‘Aisyiyah di berbagai lini strategis seperti dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, serta pelayanan sosial, dengan mendorong optimalisasi Amal Usaha dan penguatan basis komunitas.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ponorogo, Drs. Muh. Syafrudin, M.A., turut hadir memberikan apresiasi dan menekankan pentingnya Musypimda sebagai sarana refleksi dan perbaikan program di masa mendatang.
Setelah pembukaan, rangkaian sidang dimulai:
Pleno I: Penetapan tata tertib Musypimda
Pleno II: Penyampaian laporan kerja PDA oleh Dra. Hj. Sri Hidayah, M.A.
Pleno III: Pemaparan dinamika organisasi dari 23 Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah, diikuti diskusi dan pengarahan menuju sidang komisi
Tiga komisi kemudian membahas isu-isu strategis:
Komisi A: Perumusan agenda strategis untuk mewujudkan keadilan di Ponorogo
Komisi B: Penguatan tata kelola dan sistem organisasi
Komisi C: Pengembangan kepemimpinan dan pengokohan ideologi organisasi
Hasil sidang komisi dipaparkan dalam Pleno IV, yang ditutup dengan pembacaan keputusan Musypimda dan pengarahan akhir dari Ketua PDA.
Musypimda I ini menjadi bukti komitmen ‘Aisyiyah Ponorogo dalam menyusun langkah-langkah nyata untuk menghadirkan perubahan sosial yang berkeadilan, berkemajuan, dan bernilai peradaban.
Rihan Dwidarmawati

