Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Manfaat Terapi Oksigen Hiperbarik Pada Kasus Autoimun

Manfaat Terapi Oksigen Hiperbarik Pada Kasus Autoimun

Oleh Dr. dr. Hisnindarsyah, SpKL(K)

Apa yang kita bayangkan saat membaca atau mendengarkan kata tersebut?

Ya, penyakit autoimun adalah kondisi kompleks yang menantang, di mana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi kita justru berbalik menyerang jaringan tubuh sendiri. Penyakit ini dapat berdampak besar pada kualitas hidup seseorang, seringkali menyebabkan nyeri, peradangan kronis, kelelahan, dan kerusakan organ.

Berbagai kasus autoimun di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Data dari Marisza Cardoba Foundation (MCF) menyebutkan bahwa antara 5 hingga 10 persen penduduk Indonesia, atau sekitar 12,5 hingga 25 juta orang, menderita penyakit autoimun. Penyakit seperti lupus (SLE), rheumatoid arthritis (RA), dan psoriasis makin sering ditemukan di fasilitas kesehatan.

Sayangnya, pemahaman masyarakat tentang autoimun masih rendah. Layanan kesehatan untuk autoimun juga belum merata. Selain itu, mahalnya biaya terapi imunosupresif, efek samping jangka panjang, dan keterbatasan tenaga ahli imunologi klinis di Indonesia, masuk menjadi tantangan berat dalam menangani kasus autoimun. Dalam kondisi seperti ini, dunia medis tidak berhenti dalam berinovasi dan mengupayakan berbagai terapi pendukung yang lebih sistemik dan minim efek samping. Salah satunya adalah Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT).

Terapi ini awalnya digunakan untuk kasus penyelaman, keracunan karbon monoksida, dan percepatan pengobatan luka, namun kini tengah diteliti efektivitasnya untuk kasus autoimun. Tulisan ini akan membahas bagaimana membahas penerapan HBOT untuk penyakit autoimun, mengeksplorasi mekanisme kerjanya, manfaatnya, dan pertimbangan bagi individu yang mencari pilihan pengobatan alternatif.

Oksigen merupakan elemen penting untuk berfungsinya sel dan jaringan dalam tubuh dengan baik. Dalam konteks penyakit autoimun, oksigen memainkan peran penting dalam pengaturan kekebalan tubuh, penyembuhan jaringan, dan kesehatan secara keseluruhan. Namun, dalam kondisi tertentu seperti penyakit autoimun, ketersediaan oksigen dapat terganggu di jaringan yang terkena, yang menyebabkan stres dan disfungsi seluler.

Seperti yang sudah kita kenal dan pahami bersama, HBOT adalah terapi yang dilakukan dengan cara menghirup oksigen murni dalam ruang bertekanan tinggi (umumnya 1,3 – 2,4 ATA). Di bawah tekanan tersebut, oksigen tidak hanya diangkut oleh sel darah merah, tetapi juga larut langsung ke dalam plasma darah dan cairan tubuh lainnya, termasuk cairan serebrospinal (otak dan sumsum tulang belakang) dan cairan limfatik. Peningkatan kadar oksigen ini memicu serangkaian respons fisiologis yang bermanfaat bagi penderita autoimun, seperti mengurangi peradangan, memodulasi sistem kekebalan tubuh, meningkatkan regenerasi jaringan, menekan stress oksidatif, serta memiliki manfaat antimikroba.

Peradangan kronis adalah ciri khas penyakit autoimun. Terapi Hiperbarik bekerja membantu menekan respons peradangan dengan mengurangi produksi sitokin pro-inflamasi (protein yang memicu peradangan) dan meningkatkan sitokin anti-inflamasi. Tingginya kadar oksigen dalam jaringan, juga membantu menstabilkan membran sel dan mengurangi pelepasan mediator peradangan.

Salah satu aspek terpenting HBOT adalah kemampuannya untuk memodulasi respons imun. HBOT berperan dalam menyeimbangkan sel-sel kekebalan seperti sel T regulator (yang berfungsi menekan respons imun berlebihan) dan sel T helper. Dengan menyeimbangkan sel-sel ini, HBOT bisa membantu “mendidik ulang” sistem kekebalan agar tidak lagi menyerang jaringan tubuh sendiri.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita