BANGKALAN, KANALINDONESIA.COM: Kerupuk legendaris yang warnanya putih dipadu dengan rasa gurih dan renyah yang ada sejak abad ke – 9 atau ke -10 Masehi. Hingga kini masih tetap diburu oleh berbagai lapisan masyarakat Bangkalan – Jatim sebagai pendamping berbuka puasa.
Hal tersebut disampaikan oleh salah satu penjual kerupuk bernama Cecep asal Garut Jawa Barat saat dijumpai tengah menjajakan kerupuknya di pojok alun – alun kota Bangkalan sekira pukul 14.00. Tepatnya ditengah keramaian orang yang lalu lalang membeli kebutuhan untuk berbuka puasa, Jum’at, (27/2/2026).
Menurut penjelasan Cecep, kerupuk yang dijual sangat laris manis karena harganya murah meriah dan tidak sampai menguras isi kantong. Dalam 1bungkus tas kersek berisi 10 biji kerupuk dengan harga Rp. 5 ribu.
“Harganya terjangkau mas, cuma Rp. 5 ribu tidak sampai menguras isi dompet pembeli, “ucapnya seraya tersenyum lebar.
Lebih lanjut, Cecep menjelaskan bahwa dia tidak sendirian berjualan kerupuk legendaris tersebut. Ada 15 orang temanya yang ikut membantu, disebar diberbagai sudut kota Bangkalan yang strategis. Seperti ditempat dia berjualan sekarang ini, Jalan Ahmad Yani jumlahnya 3 orang di Jalan KH. Kholil 3 orang, Jalan Panglima Sudirman (pecinan) 3 orang, Jalan Trunojoyo 3 orang dan didepan PKP-RI, sebanyak 3 orang.
“Dalam waktu 2 jam, stok kerupuk yang cukup banyak dibawa itu sudah ludes terjual. Rata – rata keuntungan yang saya bawa pulang minimal Rp. 150 ribu,” terangnya.
Satu hal yang perlu diketahui, lanjut Cecep, penggemar kerupuk produksi bosnya itu. Disukai orang mulai dari kelas akar rumput (masyarakat biasa), ASN hingga warga elite (gedongan) suka makan kerupuk. Karena memang pas dan lezat sebagai pendamping berbuka puasa.
“Penggemar kerupuk tidak mengenal kelas dan strata mas, kaya miskin semuanya suka,” pungkasnya.

