Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL CIREBON

EWF Cirebon Soroti Peluang Trading Minyak Brent di Tengah Ketegangan Global

EWF Cirebon Soroti Peluang Trading Minyak Brent di Tengah Ketegangan Global

CIREBON, KANALINDONESIA.COM – Dinamika geopolitik dunia, khususnya ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah, dinilai turut memengaruhi pergerakan sejumlah komoditas global. Kondisi tersebut juga membuka peluang bagi pelaku pasar dalam perdagangan berjangka, terutama pada komoditas minyak mentah jenis Brent Crude Oil.

Hal itu disampaikan Kepala Cabang PT Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman, saat menanggapi perkembangan pasar global di tengah situasi ketidakpastian ekonomi dunia.

Menurutnya, hingga saat ini kinerja perusahaan masih berada dalam periode kuartal pertama tahun 2026, sehingga para investor dan trader masih cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan transaksi.

“Karena kita masih berada di kuartal pertama dan belum selesai, memang ada pengaruh dari ketegangan global. Banyak pelaku pasar yang masih mencermati dulu bagaimana perkembangan situasi dunia sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih besar,” ujar Ernest, Kamis (12/3/2026).

Meski demikian, Ernest menilai tidak semua instrumen perdagangan berjangka terdampak secara signifikan oleh konflik geopolitik. Salah satunya komoditas emas yang biasanya menjadi pilihan investor untuk mengamankan nilai aset ketika situasi global tidak menentu.

“Biasanya kalau terjadi perang, investor mengalihkan likuiditasnya ke emas sebagai safe haven untuk menjaga nilai aset. Namun dampaknya tidak selalu berlangsung lama, hanya sesekali saja,” jelasnya.

Sebaliknya, komoditas yang saat ini dinilai lebih sensitif terhadap ketegangan geopolitik adalah minyak mentah Brent Crude Oil (BCO). Hal itu berkaitan dengan jalur distribusi minyak dunia, terutama yang melintasi Selat Hormuz, kawasan strategis yang berada di sekitar wilayah konflik Timur Tengah.

“Yang paling terasa dampaknya adalah Brent crude oil, karena jalur transportasi minyak di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia. Situasi ini membuat harga minyak sangat sensitif terhadap konflik di kawasan tersebut,” katanya.

Ia mengungkapkan, dalam beberapa waktu terakhir harga Brent crude oil bahkan sempat menyentuh level sekitar 120 dolar Amerika Serikat per barel sebelum kemudian terkoreksi kembali di kisaran 90 dolar AS per barel. Meski mengalami penurunan, volatilitas harga minyak masih tergolong tinggi.

“Dengan situasi konflik yang belum jelas kapan akan berakhir, tensi harga minyak masih cukup tinggi. Karena itu trading Brent crude oil saat ini masih cukup menarik untuk dicermati,” ujarnya.

Ernest menjelaskan, dalam perdagangan berjangka, transaksi yang dilakukan bukan berupa komoditas fisik, melainkan pergerakan harga dari instrumen tersebut. Dengan mekanisme tersebut, trader dapat memanfaatkan momentum naik turunnya harga komoditas.

“Karena kita tidak memegang fisik barang, yang diperdagangkan adalah pergerakan harganya. Jadi ketika harga melonjak atau turun, itu justru bisa menjadi peluang trading,” jelasnya.

Sementara untuk komoditas emas, Ernest memprediksi harga dalam waktu dekat berpotensi mengalami koreksi ringan setelah sebelumnya bergerak pada level tinggi.

“Untuk emas, saat ini pergerakannya tertahan di kisaran sekitar 5.000 sampai 5.200 dolar AS per troy ounce. Ada kemungkinan terjadi sedikit penurunan, namun tetap menarik untuk diperhatikan,” katanya.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan agar para pelaku pasar lebih berhati-hati dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar, terutama di tengah maraknya berita yang belum tentu akurat di media sosial.

“Sekarang banyak juga gambar atau berita yang ternyata hoaks atau dibuat menggunakan teknologi AI. Jadi trader harus lebih selektif dalam menerima informasi sebelum mengambil keputusan,” terangnya.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita