SURABAYA KANALINDONESIA..COM : RSUD Dr Soetomo diminta terus mencari solusi terkait penanganan pasien tumor otak yang sampai hari belum juga tertangani dengan alasan menunggu jadwal antrean. Sebuah kondisi yang sangat memperihatinkan yang harusnya segera dicarikan solusinya.
Keprihatinan ini disampaikan anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. H. Suli Da’im, M.M., setelah dirinya menerima aduan dari keluarga pasien tumor otak yang hingga kini masih menunggu antrean operasi bedah saraf di RSUD Dr. Soetomo. Yang membuat miris, Kondisi pasien dilaporkan terus memburuk, bahkan kemampuan penglihatannya mulai terganggu, sementara tindakan operasi masih harus menunggu giliran.
“Saya menerima langsung pengaduan dari masyarakat. Tentu saya tidak bisa menutup mata ketika ada warga yang sedang berjuang melawan penyakit berat, tetapi harus menghadapi waktu tunggu yang sangat panjang. Ini bukan sekadar persoalan administrasi rumah sakit, melainkan menyangkut hak dasar masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan,” ujar Suli Da’im.
Politis PAN ini menjelaskan, berdasarkan penjelasan dari pihak RSUD Dr. Soetomo, pasien tersebut telah masuk daftar tunggu operasi bedah saraf sejak tahun 2024. Saat itu pasien berada pada urutan ke-152 dari total 492 antrean. Saat ini posisinya telah menjadi urutan ke-77 dari total 520 pasien yang menunggu operasi. Rumah sakit juga telah berupaya memberikan perhatian dengan membuka kemungkinan penyisipan jadwal apabila terdapat pasien terjadwal yang berhalangan hadir, serta meminta pasien tetap menjalani kontrol rutin agar kondisi klinis dan tingkat kegawatannya terus dievaluasi.
Meski mengaku prihatin, namun Suli Da’im mengapresiasi keterbukaan dan respons cepat jajaran RSUD Dr. Soetomo. Menurutnya, para dokter dan tenaga kesehatan telah bekerja dengan dedikasi tinggi di tengah beban pelayanan yang sangat besar. Namun ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh hanya dipandang sebagai keterbatasan teknis rumah sakit.
“Persoalan utamanya adalah kapasitas pelayanan yang belum mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat,” kata Suli.
Suli mengingatkan ketika pasien tumor otak harus menunggu begitu lama sementara kondisinya terus memburuk, pemerintah harus hadir mencari solusi.
“Jangan sampai masyarakat beranggapan rumah sakit mengabaikan pasien, padahal akar persoalannya adalah sistem pelayanan yang perlu diperkuat,” tegasnya.
Sebagai mitra kerja RSUD Dr. Soetomo di Komisi E DPRD Jawa Timur, Suli Da’im menilai sudah saatnya dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan bedah saraf di rumah sakit rujukan terbesar di Jawa Timur tersebut. Menurutnya, status RSUD Dr. Soetomo sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dengan kapasitas anggaran dan pendapatan yang besar semestinya memberikan ruang yang lebih luas untuk meningkatkan mutu dan kapasitas layanan.
BLUD Lanjut Suli, dibentuk agar rumah sakit memiliki fleksibilitas dalam meningkatkan kualitas pelayanan. Karena itu, masyarakat tentu berharap fleksibilitas tersebut benar-benar diwujudkan dalam bentuk peningkatan kapasitas ruang operasi, penambahan peralatan kesehatan, penguatan sumber daya manusia, serta sistem pelayanan yang lebih cepat dan efektif.
“Jangan sampai masyarakat yang sedang berjuang mempertahankan hidup justru dibebani dengan antrean yang terlalu panjang,” ujarnya.
Wakil Ketua DPW PAN Jatim tersebut juga menilai Pemerintah Provinsi Jawa Timur perlu membangun sistem pelayanan yang lebih terintegrasi agar beban pelayanan tidak seluruhnya bertumpu pada RSUD Dr. Soetomo. Penguatan rumah sakit rujukan lain yang memiliki kemampuan bedah saraf, pengembangan jejaring layanan, serta pengaturan pola rujukan menjadi langkah yang perlu segera dikaji.

