SURABAYA KANALINDONESIA COM : Jawa Timur diingatkan waspada dan mengantisipasi bencana yang biasanya terjadi di akhir tahun. Tanda-tanda itu bisa dilihat dari rentetan bencana hidrometeorologi yang saat ini melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur. Mulai dari banjir lahar hujan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, tanah longsor yang menelan korban jiwa, hingga banjir, angin kencang, dan pohon tumbang di sejumlah daerah menjadi perhatian DPRD Jawa Timur.
Kewaspadaan ini diingatkan oleh
Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni. Politisi Demokrat ini meminta pemerintah daerah bersama seluruh elemen masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem. Alasannya keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan rawan banjir, longsor, dan aliran sungai.
“Rentetan bencana yang terjadi di sejumlah daerah Jawa Timur harus menjadi perhatian serius kita bersama. Saya meminta pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, BPBD, TNI, Polri, dan seluruh unsur terkait meningkatkan kesiapsiagaan. Jangan menunggu bencana terjadi baru bergerak. Langkah antisipasi, mitigasi, dan penyampaian informasi kepada masyarakat harus dilakukan sejak dini,” ujar Sri Wahyuni, Senin (2/11/2026).
Terbaru adalah bencana yang terjadi di Kabupaten Lumajang, banjir lahar hujan Gunung Semeru menerjang sejumlah daerah aliran sungai, termasuk kawasan Tempursari. Peristiwa tersebut dilaporkan berlangsung selama sekitar enam jam dan menyebabkan tanggul sungai jebol, sekitar 13 bangunan rusak, serta berdampak terhadap kurang lebih 500 warga.
Bencana akibat cuaca ekstrem juga terjadi di Kabupaten Trenggalek. Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan pohon trembesi berukuran besar tumbang di Jalan Raya Durenan–Trenggalek, Desa Kendalrejo. Sejumlah pohon tumbang dan longsor juga dilaporkan terjadi di Kecamatan Panggul dan Kampak. Seorang pengendara sepeda motor sempat tertimpa ranting pohon dan mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, tanah longsor juga melanda kawasan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman bencana tidak hanya terjadi di sekitar Gunung Semeru, tetapi juga berpotensi muncul di wilayah lain yang mengalami curah hujan tinggi. Masyarakat pesisir selatan Jawa Timur juga diminta memperhatikan peringatan BMKG terkait potensi gelombang tinggi yang dapat mencapai empat meter.
Sri Wahyuni menegaskan, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas selama cuaca ekstrem. Warga yang tinggal di sekitar tebing, lereng, bantaran sungai, dan kawasan rawan bencana diminta meningkatkan kewaspadaan serta segera mengungsi apabila terdapat tanda-tanda bahaya.
“Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas. Saya mengimbau masyarakat tidak memaksakan aktivitas ketika hujan deras, angin kencang, atau kondisi alam tidak memungkinkan. Hindari berteduh di bawah pohon besar, jauhi aliran sungai ketika terjadi hujan di kawasan hulu, dan segera menjauh dari lereng apabila muncul retakan tanah atau tanda-tanda longsor,” tegas politisi Partai Demokrat ini.
Ia juga meminta pemerintah daerah memastikan kesiapan jalur evakuasi, tempat pengungsian, logistik, peralatan penyelamatan, serta layanan kesehatan. Koordinasi antara BPBD provinsi dan kabupaten/kota perlu diperkuat agar informasi peringatan dini dan penanganan darurat dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Penanganan bencana tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, aparat, relawan, dunia usaha hingga masyarakat. Jangan sampai keterlambatan informasi dan koordinasi membuat dampak bencana semakin besar,” tambahnya.

