Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL BLITAR

Di Pengajian dan Pawai Obor Hari Santri di Blitar, Khofifah Sebut Jatim Provinsi Pertama Yang Sahkan Perda dan Pergub Pesantren

Di Pengajian dan Pawai Obor Hari Santri di Blitar, Khofifah Sebut Jatim Provinsi Pertama Yang Sahkan Perda dan Pergub Pesantren

BLITAR, KANALINDONESIA.COM: Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir dalam Pengajian Hari Santri Nasional dan Peresmian Rehab Masjid Al Huda Tawangrejo serta Pawai obor dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) di Kabupaten Blitar, Sabtu (12/10/2024).

Dalam kesempatan ini, Khofifah menekankan HSN menjadi momentum untuk mengisi kembali semangat bagi santri dan warga NU untuk terus menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

“Salah satu orang yang ditugasi penyiapan nomenklatur Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi saat itu adalah kami. Saat itu, Bapak Presiden Jokowi menelepon saya tepat tiga hari sebelum dilantik. Beliau menyampaikan Hari Santri akan disiapkan Keppres atau Perpres, dan kemudian menanyakan apa liburbapa tidak serta hari santri dimulai pada 1 Muharrom atau tanggal lain,” kata Khofifah.

“Bahwa kami termasuk salah satu yang diamanahi untuk menyiapkan payung hukum Hari Santri Nasional. Kemudian saya dengan Pak Pratik yang sekarang Mensesneg saling bertukar email untuk menyiapkan draf yang bisa direkomendasikan pada Bapak Jokowi saat itu sebelum beliau dilantik sebagai presiden di tahun 2014,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa perumusan HSN saat itu juga tidak sesederhana yang bisa dilihat. Akan tetapi ada yang sempat meragukan dan kesulitan untuk mencari bukti catatan sejarah bahwa yang berjuang saat peristiwa tewasnya AWS Mallaby itu adalah dari kalangan santri.

“Ada yang bilang, pada peristiwa itu santrinya hanya 12 orang. Ini menjadi hal penting menurut saya bahwa ternyata banyak yang ingin menghilangkan peran NU dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kemudian mempertahankan kemerdekaan RI,” kata Khofifah.

Karena itu sejarah NU yang berjuang habis-habisan untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan harus dikuatkan dan terus di-remain serta didokumentasikan

Terutama ketika Hadrotusy Syekh KHM. Hasyim Asy’ari mengomandani kiai dan santri dan mengeluarkan fatwa ‘Resolusi Jihad’ pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad ini berisi kewajiban bagi setiap orang atau fardhu ain untuk berjihad mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dengan melawan penjajah yang masih berada di Indonesia.

“Itulah mengapa pasukan yang turun dalam agresi militer yang kemudian puncaknya di Surabaya itu adalah pasukan santri, dan para pengasuh pesantren,” ujarnya.

Karena saat perumusan HSN ada perdebatan, Khofifah sendiri turun tangan untuk menelusuri sejarah mencari berapa jumlah santri, pengasuh pondok pesantren yang turun bersama-sama dengan membawa bambu runcing melawan penjajah.

“Bahkan saya menemukan catatan sejarah bahwa Bung Tomo sowan ke KH Hasyim Asy’ari dan menanyakan, Kiai kalau saya ingin membangun semangat bersama untuk mempertahankan Indonesia apa yang harus saya ucapkan?’ Maka saat itu KH Hasyim Asy’ari menyampaikan ‘Tolong pekikkan kalimat takbir, Allahu Akbar,” urai Khofifah.

“Bahwa pekikan takbir yang diteriakkan Bung Tomo adalah dawuhnya Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri NU, agar semangat para pejuang dilipatkan oleh Allah. Cerita-cerita sejarah semacam ini mulai hilang dari sejarah,” kata Khofifah.

Tak hanya itu, Khofifah menegaskan bahwa setelah ada Undang-Undang tentang pesantren, maka Jatim adalah provinsi pertama yang mengesahkan Perda dan Pergub tentang pesantren.

“Maka pergub tentang pesantren pertama adalah Jawa Timur. Itu karena gubernurnya santri. Bagi saya Pesantren adalah Social capital, yang luar biasa,” tegasnya.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita