Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

Petani Kopi Bondowoso Binaan Universitas Jember – PT Astra Internasional Mulai Jajagi Ekspor ke Eropa

Ali Badrudin dan koleganya di LP2M patut berbangga, pasalnya langkah membawa kopi Bondowoso ke tataran dunia yang sudah dirintis semenjak 2020 lalu tak mudah. “Perlu kerja keras dan kerja sama dengan semua pihak untuk membawa kopi Bondowoso ke tingkat dunia. Kini tantangannya bagaimana menjaga dan meningkatkan mutu kopi Bondowoso dan memastikan hasil panen, agar tercipta kesinambungan ekspornya. Ketiga PR kita bersama adalah bagaimana mem-branding Kopi Bondowoso agar lebih dikenal,” kata Ali Badrudin. Untuk diketahui, hasil panen kopi Bondowoso jenis Arabica dalam bentuk green beans ditawarkan seharga 8,62 dollar per kilogramnya. Sementara untuk kopi Robusta dikisaran harga 5,17 dollar per kilogramnya. “Jika perundingan harga deal, maka bisa dibayangkan keuntungan yang diterima para petani kopi Bondowoso,” ungkap Ali Badrudin lagi.

Sebagai informasi, kopi yang disajikan dalam Indonesia Coffee Cupping 2021 adalah hasil panen petani kopi Sumber Wringin pada 3 Juli 2021 lalu. Selain menampilkan kopi Bondowoso, Indonesian Coffee Cupping 2021 juga menghadirkan kopi Arjasari Bandung, kopi Bengkulu, kopi Kintamani Bali, kopi Flores, kopi Gayo dan kopi lainnya. Sedikit mengingatkan pada 26 Juni 2021 lalu, para petani kopi di Kecamatan Sumber Wringin mengadakan panen raya yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah Bondowoso, DPRD Bondowoso, DPRD Jawa Timur, Kemendesa PDTT, PT. Astra Internasional dan pihak terkait.

Awalnya Ragu, Kini Jadi Percaya

Rasa syukur hasil panennya dibawa ke Belanda juga diungkapkan sebelumnya oleh petani kopi Bondowoso dari Desa Rejo Agung, Kecamatan Sumber Wringin, seperti yang dituturkan oleh Saleh. Tim Humas Universitas Jember menemuinya hari Sabtu (28/8) di rumahnya yang juga sekaligus cafe sederhana sebagai lokasi pemasaran produk kopinya, Tsarima. “Awalnya saya gak percaya dengan tawaran pembinaan dari Universitas Jember, bahkan saya pernah debat dengan Pak Ali Badrudin. Apa program ini bisa berhasil? Sebab sudah sering kami mendapatkan janji-janji akan dibina atau akan dibantu, tapi setelah pelatihan sekali kemudian ditinggal begitu saja,” ungkap Saleh, Ketua LMDH Wana Agung Sejahtera yang menaungi para petani kopi di desa Rejo Agung. Para petani kopi di desa Rejo Agung bergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa-Hutan (LMDH) mengingat mereka menanam kopi di lahan milik PT. Perhutani.

Sebenarnya produk kopi petani di Desa Rejo Agung, dan lima desa lainnya di Kecamatan Sumber Wringin tak pernah sepi pembeli. Cuman saja, harga yang diberikan oleh tengkulak jauh dari harga pasaran. Bahkan sering kali kopi belum dipanen sudah di ijon oleh tengkulak. Seperti yang disampaikan oleh Ketua DPRD Bondowoso kala mengikuti panen kopi di Kecamatan Sumber Wringin pada 26 Juni 2021 lalu. “Pengijon datang saat tanaman kopi sudah berbunga, dibelinya dengan harga 4 ribu rupiah per kilogram saja, padahal empat lima bulan kemudian di saat panen kopi harganya di pasaran sudah mencapai 9 ribu rupiah. Artinya keuntungan pengijon sudah mencapai 40 persen,” kata H. A. Dhafir kala itu.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita