Kedua, banyak pembeli kopi Bondowoso yang sengaja memberi merk sesuai keinginannya sendiri, sehingga hilang lah nama Bondowoso. “Saya ingin kopi dari Bondowoso membawa nama Bondowoso, agar daerah kita makin dikenal, agar wisatawan tertarik datang dan memberi dampak ekonomi berganda bagi Bondowoso. Saya minta Universitas Jember dan PT. Astra Internasional menjadi orang tua asuh yang membantu mencari pembeli dan memasarkan langsung kopi Bondowoso tanpa melalui tengkulak atau perantara. Membantu Bumdes yang akan memasarkan kopi. Saya juga mohon pihak perbankan dalam hal ini Bank Jatim untuk memberikan kredit lunak kepada petani kopi kita. Agar mereka tak lagi bisa diijon,” pesan Ketua DPRD Bondowoso kala itu.
Namun berkat pendekatan secara personal, ketelatenan disertai bukti nyata, LP2M Universitas Jember yang menggandeng PT. Astra Internasional berhasil meyakinkan para petani Kopi di Kecamatan Sumber Wringin bergabung dalam program Desa Sejahtera Astra. Mulai bantuan dari sisi teknis penanaman, perawatan, panen, pasca panen, proses pengolahan hasil panen, pemasaran, hingga penguatan kelembagaan. “Tentu saja prosesnya tidak begitu saja jadi, perlu waktu panjang dan kerja sama dengan semua pihak untuk mewujudkan impian petani kopi Bondowoso mengekspor produknya ke luar negeri. Kami memulai sejak Juli 2020 lalu melalui Program Desa Sejahtera Astra,” kata Ali Badrudin.
Beruntung, mitra Universitas Jember dalam membina petani kopi adalah PT. Astra Internasional, perusahaan besar di Indonesia yang kiprahnya sudah mendunia. Dengan jejaring yang dimilikinya, akhirnya kopi Bondowoso diperkenalkan kepada dunia, termasuk menggandeng KBRI Indonesia di Belanda. “Target kami pada tahun 2022 nanti sudah ada Local Hero dari Kecamatan Sumber Wringin yang tampil sebagai eksportir kopi melalui program Desa Sejahtera Astra dengan fokus pada empat hal yakni, penguatan kelembagaan, bantuan sarana dan prasarana, akses pemasaran dan permodalan,” tutur perwakilan PT. Astra Internasional, Bima Krida Arya.
Apa yang disampaikan oleh Bima Krida Arya diamini oleh Saleh, kini semua petani kopi, dan UMKM kopi di Kecamatan Sumber Wringin tergabung dalam Badan Usaha Desa (Bumdes) bersama yang dinamakan RAISA, singkatan dari Raung-Ijen Sumber Wringin Agropolitan. Nantinya semua hasil kopi petani dalam bentuk green beans atau olahannya akan dipasarkan melalui Bumdes RAISA, termasuk kopi yang nantinya akan diekspor ke Eropa. Tentunya dengan kesepakatan ini membuat petani kopi wajib mematuhi persyaratan dan standar yang sudah ditentukan oleh pembeli.
Tak hanya memproduksi kopi dalam bentuk green beans saja, beberapa petani sudah melangkah lebih maju dengan mengemas kopi produksinya menjadi kopi bubuk siap seduh. Seperti yang dilakukan oleh Saleh dengan kopi bubuk produksinya yang diberi merk Tsarima. Kopi produksinya ini memiliki beberapa jenis, ada yang diolah secara natural hingga yang berjenis kopi wine. Bedanya ada pada cara pemrosesan dimana untuk mengolah kopi wine dibutuhkan waktu penjemuran dan fermentasi yang lebih lama, bisa mencapai 3 bulan lebih.
