Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

Petani Kopi Bondowoso Binaan Universitas Jember – PT Astra Internasional Mulai Jajagi Ekspor ke Eropa

“Untuk kopi bubuk jenis Arabica, biasanya saya jual seharga 50 ribu rupiah untuk kemasan 200 gram, sementara untuk kopi bubuk jenis Robusta lebih murah, 25 ribu rupiah, tentu saja harga kopi bubuk jenis wine Arabica lebih mahal bisa mencapai 500 ribu rupiah untuk satu kilogramnya. Selain memproduksi kopi bubuk, para petani di Kecamatan Sumber Wringin juga memproduksi produk turunan seperti sabun kopi, scrub kopi hingga pengharum mobil dengan aroma kopi,” urai Saleh. Dalam setiap panennya, dari kebun seluas satu hektar bisa dihasilkan kopi green beans mencapai 1 ton.

Penjelasan Saleh didukung oleh ketua bidang pemasaran LMDH Wana Agung Sejahtera Ahmad Rizal. Menurut Rizal semenjak mendapatkan binaan dari dari LP2M Universitas Jember bersama PT. Astra Internasional, petani kopi lebih senang mengolah kopi menjadi kopi bubuk atau paling tidak menjual dalam bentuk green beans, tidak lagi menjual kopi dalam bentuk gelondongan. Kopi bubuk yang dijual pun sudah berani menyebutkan sebagai kopi Bondowoso. “Sebelumnya kami menjual kopi gelondongan saja, dan kemudian diberi merk sesuai keinginan pembeli. Malah oleh pembeli dari Bandung diberi merk kopi Ciwidey Bandung padahal asalnya dari Sumber Wringin Bondowoso,” kata Rizal yang punya produk kopi dengan merk Brown Coffee ini.

Manfaat dari keberadaan program pengabdian kepada masyarakat LP2M Universitas Jember bersama PT. Astra Internasional melalui program Desa Sejahtera Astra juga diakui oleh Camat Sumber Wringin, Rizky Idham Lukmana. Menurut pria asli Bondowoso ini, kecamatan yang dipimpinnya adalah wilayah dengan jumlah perkebunan kopi rakyat terluas di Bondowoso, sehingga adanya program Desa Sejahtera Astra diharapkan dapat membantu perekonomian warganya.

“Kalau bisa program ini jangan berhenti di tahun 2022, kami masih ingin pembinaan bagi petani kopi dan warga Sumber Wringin terus berlanjut. Apalagi kami berniat membangun Sekolah Kopi bagi anak muda Bondowoso yang ingin belajar seluk beluk tentang kopi. Kemudian gedung kamar bola di samping kantor kecamatan ingin kami fungsikan sebagai penginapan, cafe dan outlet yang menjual produk-produk kopi Sumber Wringin. Kami ingin mengembangkan wisata edukasi bagi wisatawan yang ingin belajar mengenai kopi, selain menjual keindahan gunung Raung. Agar Sumber Wringin dan Bondowoso benar-benar Melesat, ” ujar Rizky Idham Lukmana menyitir motto Kabupaten Bondowoso.

Sambil menikmati suasana sejuk Desa Rejo Agung yang terletak di kaki Gunung Raung, kami disuguhi kopi oleh sang empunya cafe Tsarima. Di tengah menyesap kenikmatan kopi Arabica wine, tiba-tiba telepon genggam Rizal berbunyi. Di ujung telepon seseorang tengah bertanya apakah ada persediaan kopi yang siap jual ? Seusai menerima telepon, Rizal pun bercerita. “Ada pembeli dari Bandung yang minta kiriman kopi sebanyak 1 ton dalam bentuk green beans seharga 6.700 per kilogramnya, kopi kualitas apapun akan diterimanya. Tapi jelas kami tolak, mending kami olah sendiri menjadi produk kopi bubuk. Lha wong kami menawarkan ke pembeli dari Belanda saja seharga 8 dollar per kilogramnya untuk kopi Arabica green beans,” katanya mantap.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita