Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

TikTok Javanese Culture, Angkat Kembali Kultur yang Mulai Luntur

Tangkapan layar akun TikTok Javanese Culture. (Foto: Debby Ayu Pramesti)

Oleh: Debby Ayu Pramesti, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

MALANG, KANALINDONESIA.COM: Nilai dari pemahaman berbahasa Jawa belakangan ini menjadi sorotan yang memprihatinkan, penggunaannya pun kian pudar tergerus zaman. Terlebih dengan kemajuan teknologi serta cepatnya akses informasi di dunia maya, mengakibatkan budaya asing berpeluang besar masuk dan merusak kultur yang ada.

Pada realitanya pemakaian Bahasa Indonesia, asing, dan Jawa mulai dicampuradukkan. Hal ini ikut menunjukkan kondisi Bahasa Jawa yang semakin surut dari peradaban. Padahal Bahasa Jawa memiliki etika bahasa yang baik untuk digunakan dan mencerminkan karakteristik adat budaya Jawa seperti tata krama, sopan santun kepada lawan bicara, menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda. Sehingga perlu diadakan suatu inovasi agar budaya di Indonesia khususnya budaya Jawa bisa menjadi jati diri bangsa.

Media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas kehidupan sehari-hari hampir semua orang. Ruang di mana kita membangun hubungan, membentuk identitas diri, mengekspresikan diri, dan belajar tentang dunia sekitar. Salah satu media sosial yang menjadi tren saat ini ialah TikTok.

Aplikasi ini seakan menjadi primadona di tengah pandemi corona. TikTok semakin digandrungi oleh seluruh kalangan. Dengan memberdayakan pemikiran-pemikiran yang kreatif sebagai bentuk revolusi konten, menjadikan aplikasi ini sebagai wadah baru dalam berkreasi bagi para content creators.

Bagaikan dua sisi mata uang koin, TikTok dipuja sekaligus dihujat dalam waktu yang bersamaan. Sebagian besar masyarakat masih menganggap TikTok hanya sebatas media hiburan yang cenderung kurang bermanfaat bahkan dianggap negatif. Mengutip CNN, aplikasi yang sebelumnya pernah diblokir oleh Kominfo karena dianggap memberikan dampak buruk pada anak-anak, kini dalam beberapa kasus, TikTok justru dijadikan sebagai sarana edukasi sekaligus aktivisme dalam masyarakat luas. Sarana edukasi dalam TikTok berupa edukasi informal pengetahuan umum dan spesifik sesuai konten yang disajikan oleh si pengguna.

Materi pendidikan pun sejatinya dapat disampaikan menggunakan TikTok agar lebih menarik dan tidak membosankan.
TikTok berinovasi berubah menjadi konten yang berkontribusi sebagai media penyebaran informasi bermanfaat dalam konteks tertentu. Hal tersebut yang akhirnya membuat banyak masyarakat tertarik untuk mengunduh dan menggunakan aplikasi TikTok, seiring dengan ‘wajah’ baru yang diusungnya saat ini.

Tak bisa dipungkiri, dengan hadirnya TikTok yang dikemas seperti saat ini telah membuka peluang bagi masyarakat untuk menuangkan kreativitas dan ilmu yang mereka miliki dengan menyajikannya dalam bentuk konten video singkat. Perubahan sajian konten pada TikTok saat ini tentu saja membuat citra dari platform tersebut kian baik dan berubah menjadi salah satu media sosial yang semakin disukai oleh masyarakat.

Momentum ini pun tak luput dari kacamata mahasiswa kelompok 33 gelombang 16 PMM Universitas Muhammadiyah Malang yang turut memanfaatkan platform yang telah menjadi candu ini untuk dituangkan ke dalam program yang mereka usung dengan tema TikTok Javanese Culture.

Hadirnya program ini dimaksudkan untuk merefresh atau mengingatkan kembali kepada generasi muda serta memperkuat nilai-nilai kebudayaan Jawa yang mulai terkikis. Sasaran dari program ini adalah siswa-siswi sekolah dasar.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita