Jadi kita penuh arti dan simbol. Juga akan mengajak penonton untuk ikut menabur bunga bersama-sama sebagai aplikasi dari rasa berkabung atas musnahnya bangsal tembakau.
“Semula akan ditabur di eks gudang 1926. Namun mengingat sesuatu dan lain hal kita lakukan di intalasi. Tentunya diringi musik gamelan yang hikmat, ” tambahnya.
Seperti tertera dalam proposal, kegiatan ini akan diplot menjadi destinasi parawisata sejarah kebun tembakau. Dimana kuliner bisa menjadi ciri khas. Selain kuliner kata Ayub, atribut masa lalu seperti dokar, kereta lembu, sepeda ontel, kostum mandor kebon akan menjadi daya tarik tersendiri.
“Kita berharap tidak jalan sendiri dalam mengembangkan kebudayaan yang kini menjadi primadona dalam pembangunan karakter kebangsaan. Tanpa kehadiran negara segalanya tak mungkin terwujud, ” tandasnya. (***)
