Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

Menyelami Keluarga Habaib dan Mantri Guru di Karya Novel Dua Dosen ITS

Mengangkat Budaya Habaib

Sementara karya Dra Lubna Algadrie MA berjudul “From Sydney With Love” meski fiksi tapi alur cerita, konflik yang terjadi di antara para tokohnya, dibangun atas dasar pengalaman hidup penulisnya yang juga dosen ITS. Sebelumnya dosen bahasa Inggris ITS tersebut memang mengambil beasiswa S-2 di Sydney, Australia. Dia pun menyelesaikan master of arts di University of Sydney, Australia. Buku ini merupakan karya kedua dari Lubna setelah bukunya yang berjudul A Long Journey of A Single Parent Teacher.
Novel ini menarik karena mengangkat tema yang tidak mainstream. Mulai judulnya “From Sydney with Love (Syarifah What Is Bothering You)” sudah membuat pembaca penasaran. Mengutip dari adrionomatabaru.blogspot.com, masih belum banyak kisah fiksi yang mengangkat budaya dan kehidupan keluarga Arab habaib di negeri ini. Maka, melalui novel buah karya Lubna Algadrie ini kita bisa sedikit mengintipnya dan mendapatkan tambahan cakrawala pengetahuan. Kabarnya, novel ini sedang diminati seorang produser, jadi ada kemungkinan bakal diangkat menjadi film layar lebar.

Seperti diketahui, sebagian besar ulama pria Arab yang datang ke Nusantara bergelar sayid atau syarief, atau syarifah dan sayidah untuk yang perempuan. Gelar syarief/syarifah disematkan bagi keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayidina Hasan. Sedang sayid/syayidah dari jalur Sayidina Husin bin Abi Talib yang menikah Siti Fatima, putri Rasulullah.

Sebagian besar dari mereka masih berpendirian bahwa menjaga pertalian keluarga berdasar hubungan darah (nasab) merupakan kewajiban. Seorang syarifah seharusnya bersanding dengan seorang sayid. Ini pasangan yang sepadan, se’kufu’, supaya martabat keluarga sebagai habaib terpelihara. Jika melanggar, perempuan syarifah harus rela melepas nasabnya, tidak berhak lagi menyandang gelar marga di belakang nama putra-putri yang dilahirkannya.

Sikap keluarga habaib ini tergambar dalam tokoh Aba, yang senantiasa berpesan kepada putri sulungnya, Syarifah Fatima (Iffah). “Jagalah marga kita sebagai keturunan Rasulullah,” kata Aba. Demikian juga dengan Umi yang menggariskan pesan tegas, “Jangan lupa kamu seorang syarifah. Kamu harus menikah dengan seorang sayid atau syarif. Kalau tidak, apa nanti kata keluarga besar kita?” (hlm 10).

Maka Iffah, tokoh sentral dalam novel ini, menjalani hidup dalam lingkaran-lingkaran labirin yang tidak dikehendaki sekaligus sulit dihindari. Dia kadang merasa terlalu banyak dibatasi oleh aturan-aturan yang hampir sulit dicerna. Cinta pertamanya bersama Kapten Hermana pun kandas. Bahkan kemudian Iffah jadi gamang untuk memaknai apa itu cinta.

“Setiap aku menyukai seseorang ada saja penghalang yang memangkas tunas yang akan tumbuh. Cintaku tidak pernah tumbuh dengan baik. Aku jadi terbiasa belajar melupakan orang-orang yang aku sukai, karena Aba selalu mengatakan: simpan cintamu untuk seorang sayid,” katanya (hlm 63).

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita