Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Uncategorized

Setahun Jelang Pemilu 2024 : Partai Lama, Baru, Besar dan Gurem, yang Juara dan yang Tak Lolos?

PBB pada pemilu pertamanya di tahun 1999, berhasil lolos DPR, begitu pula tahun keduanya ikut pemilu di tahun 2004 berasil lolos DPR, namun 2009, 2014, 2019, PBB tak lolos parliamentary Threshold.

Bagian 2: Kepuasan Kinerja Pemerintah

Kepuasan kinerja pemerintah bisa dibuat dalam kategori rapor biru dan rapor merah.

Rapor biru jika yang puas (puas + sangat puas) lebih besar dibandingkan yang tak puas (tak puas + sangat tidak puas).

Rapor merah jika yang puas (puas + sangat puas) lebih sedikit dibandingkan yang tak puas (tak puas + sangat tidak puas)

Terdapat delapan rapor biru pemerintahan Jokowi. Tiga tertinggi rapor biru pemerintahan Jokowi adalah dalam isu sosial budaya dengan kepuasan sebesar 83.6%, isu keamanan dengan kepuasan sebesar 73%, dan isu internasional sebesar 72.4%.

Rapor biru pemerintahan Jokowi yang lain adalah, dalam isu kesejahteraan guru dan PNS sebesar 61.3%, isu ekonomi sebesar 59.4%, isu menyediakan sembako sebesar 58.6%, isu politik sebesar 54.3%, dan isu penegakan hukum sebesar 53.8%.

Terdapat tiga rapor merah pemerintahan Jokowi. Pertama, dalam isu kesejahteraan petani, buruh, dan nelayan. Kepuasan atas isu ini sebesar 42.6%. Ketidakpuasan atas isu ini sebesar 51.4%. Lebih banyak yang tidak puas dibandingkan denga yang puas.

Kedua, isu mengurangi kemiskinan. Kepuasan atas isu ini sebesar 41.5%. Ketidakpuasan atas isu ini 56.5%.

Ketiga, isu membuka lapangan pekerjaan. Kepuasan atas isu ini 38.3%, ketidakpuasan atas isu ini sebesar 59.5%

Bagaimanakah perbedaan perilaku pemilih antara Partai Besar (PDIP + Golkar + Gerindra), dibandingkan pemilih Partai Menengah (PKB + Demokrat + PKS + Nasdem), dibandingkan pemilih Partai Gurem (Partai Kecil + Partai Nol Koma) terhadap kepuasan kinerja pemerintah Jokowi?

Dalam isu ekonomi, kepuasan pemilih Partai Besar sebesar 64.0%, kepuasan pemilih Partai Menengah sebesar 53.9%, dan kepuasan pemilih Partai Gurem sebesar 50.7%. Pemilih Partai Besar yang paling tinggi kepuasannya, diikuti Partai Menengah, kemudian Partai Gurem.

Pemilih partai gurem umumnya lebih tidak puas dengan kinerja pemerintahan Jokowi dibandingkan pemilih partai menengah dan partai besar untuk aneka isu kinerja pemerintahan Jokowi.

Apa yang dapat dipelajari dari sejarah pertumbuhan partai lama dan baru?

Partai baru hanya bisa menjulang tinggi paling didukung jika partai itu memiliki calon presiden paling populer.

Ini terjadi untuk kasus Partai Demokrat. Saat itu Demokrat untuk pemilu yang kedua yang diikutinya (2009), memiliki SBY sebagai calon presidennya.

Partai yang lahir di era reformasi hanya bisa menjadi partai besar (dukungan >10%) jika punya capres yang juga populer (kasus Partai Gerindra dengan Prabowo).

Tapi partai yang pernah lolos ke DPR dapat terjatuh menjadi partai Non- Parlemen (tak lolos parliamentary threshold), seperti pada kasus Partai Hanura dan PBB.

Ini peringatan untuk PAN dan PPP yang hingga hari ini belum didukung minimal 4 persen.

Kesimpulan

Terdapat tujuh kesimpulan dari rilis LSI Denny JA kali ini.

Pertama, partai diatas 10%, hanya dicapai oleh tiga partai, yaitu : PDIP, Golkar dan Gerindra.

Kedua, semua partai baru (yang ikut pemilu baru pertama kalinya) masih menjadi partai nol koma (Dukungan <1%).

Ketiga, partai yang kini lolos parliamentary threshold 4% adalah: PDIP, Golkar, Gerindra, PKB, Demokrat, PKS, Nasdem

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita