Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Konghucu yang Progresif, Islam Eropa dan Paham Agama Pro Hak Asasi Manusia

 

Penulis : Denny JA

Imlek Bersama Lintas Agama Forum Esoterika

Saya membaca The New York Times edisi 21 Januari 2023. Ini berita mengenai malam Tahun Baru Cina, Imlek, di Amerika Serikat.

Hal yang baru di Amerika Serikat, menurut berita ini, sebanyak 21 anggota konggres di Amerika Serikat berasal dari Asia dan Hispanik. Ini jumlah terbanyak yang pernah terjadi dalam sejarah konggres Amerika Serikat.

Untuk pertama kalinya, tulis berita ini, tahun baru Cina menjadi hari libur di negara bagian California. Sebelumnya, tahun baru Cina sudah menjadi hari libur bagi sekolah publik di New York (1).

Ketika datang Imlek, tahun baru Cina, itulah panggilan kultural tertinggi bagi warga di Amerika Serikat keturunan Tionghoa.

Memang agama formal yang kini mereka peluk cukup beragam: Protestan, Katolik, Hindu, Budha bahkan Islam.

Namun apapun agama yang dipeluk, di hari tahun baru Cina, mereka berkumpul, dengan keluarga dan handai taulan. Secara kultural, oleh sebagian, panggilan Imlek ini dianggap lebih tinggi dibandingkan panggilan hari raya agama mereka masing- masing.

Mereka menghidupkan tradisi. Menyiapkan makanan khas Cina. Saling membagi uang dalam ampau dengan amplop berwarna merah. Tari barongsai melenggak lenggok ke sana kemari.

Tapi walau mereka merawat tradisi, mereka hidup dalam kultur sosial politik yang berbeda dibandingkan negara asal leluhur mereka di Cina.

Terbit buku karangan Stephan C Angle berjudul: . Contemporary Confucian Political Philosophy: Toward Progressive Confucianism (2012).

Buku ini memberi inspirasi bahwa masyarakat Tionghoa yang tinggal di dunia barat khususnya, memerlukan paham dan interpretasi Konghucu yang lebih sesuai.

Dalam paham Konghucu progresif ini, mereka tetap mempetahankan core philosophy dari Konghucu untuk ajaran moral individual.

Golden Rule dari Konghucu semakin dipopulerkan.“Lakukanlah kepada orang lain apa yang kamu ingin orang lain lakukan padamu. Jangan lakukan pada orang lain, apa yang kamu tak ingin orang lain lakukan padamu.”

Namun untuk prinsip moral kolektif, moralitas ruang publik, paham Konghucu Progresif menolak kultur politik yang kini berkuasa di Negara Cina.

Di sana, di negara Cina, ajaran Konghucu disubordinasi agar tumbuh, berdampingan, harmoni dengan sistem politik yang tidak menghargai hak asasi manusia, tidak demokratis, kurang menghargai persamaan hak- hak kaum perempuan.

Konghucu progresif hanya ingin harmoni dengan kultur yang menghargai hak asasi, demokratis, dan menjunjung persamaan hak kaum perempuan.

Buku Progresive Confucianism ini segaris dengan tradisi Islam di Eropa. Dua puluhan tahun sebelum buku Progressive Confucianism terbit, di Eropa, ada pemikir bernama Bassam Tibbi. Sejak tahun 1990 an, Tibbi sudah mengembangkan paham Islam Eropa.

Baginya Islam yang tumbuh di Eropa harus memisahkan diri dengan Islam yang tumbuh di negeri asalnya: Timur Tengah. Islam di Eropa harus tumbuh dengan nilai- nilai Eropa yang menghayati hak asasi manusia, demokrasi dan persamaan hak kaum perempuan.

Demikianlah kita menyaksikan evolusi dalam paham agama. Tak ada lagi paham One Size For All; satu paham agama untuk Semua.

Negara yang maju inginkan paham agama, tafsir dan interpretasi yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Paham agama yang mereka butuhkan sudah sangat berbeda dengan yang kini dominan di negara asal agama itu.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita