Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Konghucu yang Progresif, Islam Eropa dan Paham Agama Pro Hak Asasi Manusia

Kita menggaris bawahi pentingnya melahirkan, memilih dan mempopulerkan tafsir agama yang sesuai. Paham agama yang berbeda dapat melahirkan negara yang berbeda. Interpretasi agama yang berbeda dapat melahirkan masyarakat yang juga berbera.

Memilih dan mempopulerkan tafsir agama yang sesuai, terasa lebih penting lagi bagi negara kita, Indonesia. Di negara ini, goresan agama pada batin masyarakat sangat dalam.

Lebih dari 90 persen populasi di Indonesia menyatakan agama sangat penting bagi hidupnya.

Kita menghindari dua ekstrem paham agama. Pertama, paham yang memberlakukan agama seperti konstitusi di ruang publik. Yaitu paham yang memahami agama secara tekstual dan inginkan kebijakan pemerintah segaris dengan tafsir mereka sendiri atas kitab suci.

Ujung dari paham agama ini kurang diapresiasinya keberagamaan, kesetaraan, dan hak asasi manusia. Diukur dari berbagai indeks, mulai dari Human Development Index hingga World Happiness Index, negara yang didominasi oleh paham agama sebagai konstitusi pemerintahan memilik indeks yang buruk.

Ekstrem lain, kita juga menghidari sikap yang anti agama. Yaitu paham yang menganggap agama hanyalah narasi pra- ilmu pengertahuan. Tempat agama dalam pandangan ini hanya berharga sebagai kajian sejarah belaka, dan pada waktunya agama masuk museum.

Pandangan ini pun membuang tradisi panjang harta karun sejarah. Agama pada dasarnya adalah harta karun tempat kita dapat banyak menggali kekayaan dan kedalaman spiritualitas manusia yang kompleks.

Kita mengembangkan paham agama jalan tengah. Yaitu agama yang sejalan dengan prinsip hak asasi manusia, hak kaum perempuan, demokrasi dan ilmu pengetahuan.

Esoterika dibuat menjadi bagian dari gerakan itu. Sekecil apapun, harus terus dihidup- hidupkan ikhtiar agar di Indonesia pada waktunya yang dominan adalah paham agama yang menghargai hak asasi manusia.

Karena itulah dalam forum tatap muka Esoterika ini, yang diundang tak hanya komunitas dari berbagai agama dan kepercayaan. Tapi juga diundang komunitas hak asasi manusia dan hak kaum perempuan.

Inilah mimpi kita. Akan tercapaikah mimpi ini? Mimpi agar paham agama yang pro hak asasi manusia menjadi dominan di Indonesia?

Kitapun teringat lirik lagu Imagine, John Lennon:

You may say I am a dreamer. But I am not the only. I hope someday you joint us. And the world will be as one.

Mimpi sudah diikrarkan. Sisanya adalah perjuangan.

CATATAN

(1) Tahun baru Cina di Amerika Serikat, New York Times

https://www.nytimes.com/2023/01/21/style/lunar-new-year-traditions.html

#ini transkripsi pidato yang disampaikan dalam peringatan Imlek Lintas Agama, yang diselenggarakan Esoterika Forum Spiritualitas, 11 Feb 2023.

*Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Penggagas Puisi Esai, Sastrawan, dan Penulis Buku.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita