Dia mengingatkan, kinerja yang tidak memuaskan dari petahana, menjadi salah satu faktor yang paling penting untuk tidak melanjutkan kepemimpinan di periode berikutnya.
Jika masyarakat tidak puas pada kinerja tersebut, karena pemimpinnya tidak mampu memenuhi harapan dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh daerahnya, maka masyarakat akan mencari alternatif pemimpin yang lebih baik.
Karena itu, Didu menegaskan, menjadi sangat wajar jika masyarakat NTB kemudian merindukan pemimpin yang muda, segar, dan inovatif untuk memimpin daerah.
Hal itu kata analis politik yang dikenal humble ini, karena banyak masalah dan tantangan yang dihadapi oleh NTB saat ini membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan untuk memimpin dengan cara yang berbeda dan inovatif.
“Pemimpin muda cenderung lebih adaptif, responsif dan Smart terhadap perubahan zaman dan dinamika sosial yang terus berubah. Selain itu, pemimpin muda juga memiliki kreativitas dan gagasan yang bisa mendekatkan daerah pada solusi dari setiap permasalahan yang dihadapinya,” tandas Didu.
Ditanya terkait pandangan bahwa pemimpin muda identik dengan pemimpin yang minim pengalaman, Didu menegaskan, hal tersebut tidak lagi relevan. Dia memberi contoh, bagaimana kepemimpinan anak muda di Kota Solo di Jawa Tengah, telah mampu membuat lompatan bagi daerah dengan inovasinya di sektor pariwisata, pendidikan, dan perekonomian.
“Itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bukti betapa pemimpin muda bisa fokus pada kebutuhan masyarakat dengan memberikan respons cepat dan tepat. Pemimpin muda mampu menggalang partisipasi masyarakat, memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman yang cepat, dan tentu saja memiliki integritas dan moralitas,” tandas Didu.
Pun begitu, Didu tidak menampik, jika tetap ada tantangan bagi para pemimpin muda. Terutama dalam hal pendanaan kampanye.
Namun begitu, hal tersebut bukanlah hal yang tidak bisa diatasi. Anak-anak muda yang bertarung di Pilkada dapat menyiasati minimnya dana kampanye dengan membangun relasi yang kredibel dengan masyarakat dan media semenjak jauh-jauh hari sebelum Pilkada.
Selain itu, mengoptimalkan penggunaan media sosial juga bisa menjadi salah satu alternatif. Pemimpin muda juga dapat menggalang dan menghimpun relawan.
“Yang tidak kalah pentingnya, tentu pemimpin muda harus berkolaborasi dengan partai politik yang juga menjadi pintu masuk untuk mendapatkan pembiayaan dalam kampanye,” tandas Didu.
Lebih dari itu semua, pemimpin muda juga kata dia, penting untuk mendesain kampanye yang matang dan efektif. Antara lain dengan fokus menjangkau segmen masyarakat yang menjadi basis dukungan. Sehingga dengan cara ini, waktu dan sumber daya yang dimiliki, benar-benar akan dapat dimanfaatkan dengan optimal.(dan_kanalindonesia.com)
