Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL NASIONAL

SMRC: Umumnya Masyarakat Indonesia Memiliki Sikap Negatif pada Israel

Saiful menilai bahwa, lepas dari kekisruhan tentang keputusan FIFA soal tuan rumah Piala Dunia U20, dasarnya masyarakat Indonesia memang tidak positif pada Israel.

Lalu bagaimana masyarakat Indonesia menilai atau melihat konflik Israel dan Palestina? Apakah publik mengetahui bahwa belakangan terjadi peningkatan konflik antara Israel dan Palestina? Pada survei Mei 2021, SMRC menemukan ada 84 persen yang mengetahui peningkatan konflik tersebut, yang tidak tahu 16 persen. Dari yang mengetahui, 58 persen menyatakan bahwa Israel adalah pihak yang salah dalam konflik tersebut, hanya 10 persen yang menyebut Palestina, 12 persen keduanya, dan 21 persen tidak menjawab.

Saiful menjelaskan bahwa, berdasarkan data ini, kebijakan pemerintah sejauh ini tentang Israel memiliki akar sosiologis yang kuat. Karena itu, kalau pemerintah ingin mengubah kebijakan tersebut, itu adalah sesuatu yang tidak gampang. Misalnya jika Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel, ada potensi dampak sosial karena besarnya sentimen negatif pada Israel di tingkat massa.

“Terlepas dari rencana Piala Dunia U 20 yang melibatkan timnas Israel itu, dasarnya masyarakat kita memang memiliki sentimen yang kurang positif terhadap Israel,” ujar guru besar ilmu politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu.

Lalu apakah konflik antara Israel dan Palestina itu murni persoalan politik atau seperti yang menjadi perhatian Bung Karno bahwa ini adalah persoalan kebebasan dan kemerdekaan sebuah bangsa? Mayoritas masyarakat Indonesia (57 persen dari yang tahu) melihat bahwa konflik Israel dan Palestina itu adalah konflik antara ummat Islam dengan ummat Yahudi. Kalau analisisnya hanya pada responden yang beragama Islam, jumlahnya menjadi 63 persen. Yang tidak setuju dengan pandangan itu hanya 23 persen dan yang tidak jawab 20 persen.

Dari sisi pendidikan, survei SMRC ini juga menunjukkan bahwa orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih mengetahui bahwa terjadi peningkatkan konflik antara Israel dan Palestina.

Ada 97 persen yang berpendidikan perguruan tinggi yang menyatakan tahu, sementara yang berpendidikan SD ke bawah hanya 65 persen. Namun 65 persen warga yang berpendidikan SD mengetahui hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan publik pada konflik Israel-Palestina cukup massif.

“Pengetahuan publik tentang konflik tersebut berakar sampai ke bawah ke mereka yang memiliki tingkat pendidikan rendah,” beber Saiful.

Apakah ada perbedaan sikap atau pandangan antara yang berpendidikan tinggi dan rendah terhadap konflik Israel dan Palestina tersebut? Survei ini menunjukkan bahwa antara yang berpendidikan SD dan yang berpendidikan perguruan tinggi sama dalam melihat konflik tersebut sebagai konflik agama. Ada 68 persen dari kedua kelompok masyarakat tersebut yang menilai konflik Israel-Palestina pada dasarnya adalah konflik antara orang Yahudi dan orang Islam.

“Orang mau sekolah atau tidak sekolah, dalam melihat konflik ini, sama. Jadi harapan bahwa orang yang lebih berpendidikan akan melihat konflik ini sebagai konflik politik dan bukan konflik peradaban tidak ada buktinya secara empiris,” lanjuf Saiful.

Saiful menegaskan bahwa, sekolah atau pendidikan di Indonesia tidak membantu untuk membuat orang berbeda dalam bersikap dalam kasus konflik antara Israel dan Palestina.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita