JAKARTA, KANALINDONESIA.COM: Azerbaijan mendukung visi dunia bebas ranjau. Seperti yang ditekankan oleh Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev dalam tweet nya pada peringatan 4 April bahwa Hari Kesadaran Ranjau dan Bantuan untuk Penanggulannya Sedunia harus dilakukan dalam skala internasional untuk mengakhiri teror ranjau di seluruh dunia.
Azerbaijan akan mendeklarasikan SDG nasional dalam penghapusan ranjau kemanusiaan. Hal ini secara aktif juga mempromosikan pengenalan SDG Perserikatan Bangsa-Bangsa yang baru terkait penghapusan ranjau kemanusiaan. Terkait hal ini, Azerbaijan juga mengusulkan untuk membentuk kelompok negara-negara yang terkena ranjau dibawah Gerakan Non-Blok.
Sejak November 2020, Azerbaijan mengalokasikan sekitar 200 juta dolar AS dari anggaran Pemerintah untuk membersihkan sebagian wilayahnya dari ranjau darat yang dipasang oleh Armenia. Sebagai hasil dari upaya ini, lebih dari 700 juta meter persegi wilayah dibersihkan dari ranjau darat di mana 85.024 ranjau darat dan Sisa Bahan Peledak Perang (ERW) ditemukan dan telah dihancurkan sejak adanya Pernyataan Trilateral November 2020.
Hal ini hanya mencakup 9.06% dari jumlah ranjau darat yang telah terkonfirmasi dan diduga berada di wilayahnya.
Azerbaijan sendiri merupakan salah satu negara yang paling banyak terkontaminasi ranjau dan sisa bahan peledak perang di dunia. Berdasarkan tingkat kontaminasi ranjau dan sisa bahan peledak perang, wilayah ini yang terkena ranjau darat dikategorikan kedalam tiga hal, yakni daerah denganancaman tinggi, sedang, dan rendah.
Data awal yang dikumpulkan menunjukkan bahwa jumlah minimum ranjau darat adalah sekitar 1,5 juta. Namun, dari hasil survei yang saat ini dikumpulkan baik secara teknis maupun non-teknis, jumlah ranjau darat yang ada sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi.
Ranjau darat berdampak negatif terhadap populasi penduduk dan tetap menjadi sumber ancaman kemanusiaan di Azerbaijan. Sebab, masalah ranjau darat mempengaruhi sekitar satu juta orang, yakni hampir 10% dari total populasi negara. Hal ini menjadi penting terutama bagi pengungsi yang tidak bisa kembali ke rumah mereka secara aman.
