Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL BUDAYA DAN WISATA

Taufiq Ismail dan D. Zawawi Imron Baca Puisi Antikorupsi

Tetapi kalau hujan itu berkah perlambang rahmat
Hujan rahmat hanya akan membasahi orang yang jujur saja
Orang-orang yang tidak jujur tidak pernah akan basah oleh hujan rahmat
Kenapa? Kenapa?
Karena merekalah yang menolak hujan rahmat dengan payung-payung hasil curiannya itu.

Tidak hanya mengulas koruptor, Zawawi juga menebar pesan tentang pentingnya budi pekerti, adab anak kepada bapak ibu serta kepada guru, seraya menyitir “puisi” Imam Syafini dan kata bijak pada ulama terdahulu.

Alhasil acara parade puisi berlangsung sukses dan seru. Juga melegakan, karena uneg-uneg, kejengkelan, dan aspirasi penonton tersalurkan lewat bait sajak yang disuarakan sejumlah penyair di dalam parade. Akan tetapi, harus diakui, pentas puisi kritik saat ini tidak dapat menandingi kehebohan acara yang sama, yang ditampilkan pada saat zaman Orde Baru dulu.

Dulu untuk lantang meneriakkan kritik di tengah sistem politik yang represif dan rezim militeristik seperti itu, butuh nyali rangkap. Dan tidak semua penyair memiliki. Begitu ada penyair tatag meneriakkan sindiran pedas yang memerahkan kuping penguasa, maka yang terjadi adalah katarsis. Penonton bersorak girang, lantaran ganjalan yang menyumbat hati mendapat saluran pelepasannya. Penonton menjadi suporter yang nimbrung unjuk rasa, tanpa takut risiko diciduk aparat.

Rupanya, untuk menjadi tontonan seru dan tegang, pembacaan puisi kritik membutuhkan “bumbu” intimidatif secukupnya. Tetapi di era medsos, di mana semua orang dapat seenaknya menyinyiri dan mencaci maki penguasa negeri, agaknya kritik lewat puisi menjadi berkurang daya gigitnya.
Begitukah?

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita