Dalam tahap akseptabilitas, pemilih menerima seorang calon presiden Penerimaan ini merupakan proses alam bawah sadar berbentuk persepsi yang terbangun.
Baik itu penerimaan akan kualitas, kompetensi, integritas, profesionalitas, personalitas, perilaku, prestasi, reputasi, kepemimpinan, visi dan lain-lain. Ada proses penilaian disini, dimana proses ini melahirkan penerimaan (akseptabilitas) pemilih terhadap calon.
“Karena begitu banyaknya aspek yang dipertimbangkan, maka pada hakekatnya akseptabilitas adalah garis yang mengubungkan antara popularitas dan elektabilitas, disini kunci proses berfikir para pemilih nantinya dan Proses akseptabilitas memerlukan waktu lebih lama dibandingkan popularitas, bahkan untuk elektabilitas,” bebernya.
Menanggapi hasil survei Indonesia Network Election Survey (INES), soal naiknya elektabilitas Prabowo Subianto sebagai capres 2024. Pengamat Politik dari Universitas Mulawarman Samarinda (Kalimantan Timur), Budiman mengatakan, naiknya elektabilitas Prabowo Subianto sebagai capres karena Ketua Umum Gerindra itu tetap tenang meskipun sering diterpa isu yang kurang baik. Bahkan Prabowo tetap menunjukkan wibawanya sebagai tokoh nasional dan juga sebagai capres.
“Saya melihat unggulnya elektabilitas Prabowo Subianto sebagai capres karena Prabowo tetap meskipun sering diterpa isu negatif. Tetap menunjukkan sebagai tokoh nasional,” kata Budiman kepada awak media, Rabu (5/7/23)
Namun saat ditanya soal hasil survei yang menunjukkan peluang pendukung Jokowi pada tahun 2019 lebih memilih Prabowo Subianto, Budiman menyebutkan bahwa pendukung Jokowi pada pemilu 2019 lalu, tentunya lebih memilih mendukung Prabowo Subianto ketimbang Ganjar Pranowo, sebab, pandangan pendukung Jokowi menganggap Prabowo lebih sering bersama Jokowi dalam kegiatan apapun.
“Ya, kalau pendukung Jokowi 2019, tentu lebih memilih mendukung Prabowo Subianto ketimbang Ganjar Pranowo, apalagi Jokowi sering bersama Prabowo itu sebagai bukti ada kedekatan emosional,” ucap Budiman.
Selain itu, kata Budiman popularitas Prabowo Subianto saat ini sangat tinggi daripada kandidat capres lainnya seperti Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan karena Prabowo fokus bekerja sebagai Menhan dalam membantu Presiden Jokowi.
Tak hanya itu, Budiman mengungkapkan, disaat Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan saling serang terkait isu politik. Namun, Prabowo Subianto tetap tenang dan tidak terpengaruh soal isu negatif tersebut.
“Ya ketika kandidat capres Ganjar dan Anies Baswedan sibuk serang soal isu politik, justru Prabowo lebih tenang dan tidak terpengaruh dengan isu negatif tersebut,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga melihat bahwa jika Ganjar Pranowo sebagai presiden maka ia akan bekerja sebagai petugas parpol, begitu juga dengan Anies Baswedan yang tidak ada kekuatan, ditambah adanya Surya Paloh itu juga sangat pengaruh, maka saat ini yang memiliki peluang besar adalah Prabowo, karena Prabowo ketika menjadi presiden, dia tidak akan di intervensi oleh siapapun, karena dia sebagai ketum parpol tentu memiliki kewenangan meskipun ada dukungan parpol lainnya, selain itu, Prabowo bisa terus melanjutkan program dan kerja Jokowi selanjutnya.
“Kalau Ganjar Pranowo tentu akan menjadi petugas partai kalau beliau jadi presiden, begitu juga dengan Anies Baswedan disana ada Surya Paloh, pasti akan dikendalikan, yang jelas saat ini adalah Prabowo yang tidak akan di intervensi oleh pihak manapun, karena sebagai ketum parpol,pasti memiliki kewenangan lebih. Dia juga dapat melanjutkan program Jokowi dan kerja Jokowi selanjutnya,” imbuhnya.@wgs
