Helikopter Mulai Dikerahkan untuk Pemadaman Kebakaran Hutan Gunung Lawu

ARSO 02 Okt 2023

MAGETAN, KANALINDONESIA.COM: Uapaya pemadaman kebakaran hutan di Gunung Lawu yang meluas hingga 120 hektar mulai dikerahkan helikopter pemadam untuk mematikan api di kawasan yang tak sulit dijangkau.

Pada Senin (02/10/2023) siang ini, water bombing dilakukan di sejumlah titik yang terpantau masih berapi. Sementara ini baru satu helikopter yang dipersiapkan karena sebagian besar helikopter disiagakan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang juga mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Water bombing dipilih karena ada sejumlah titik yang tak terjangkau petugas pemadam api. Medan di kawasan Lawu bagian timur laut sulit dijangkau karena curam. Selain itu, angin juga berembus kencang.

Bertambahnya area hutan yang terbakar mencapai 120 hektar tersebut disampaikan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Satriyo Nurseno.

Pemadaman api hingga kini masih dilakukan di kawasan hutan di Desa Ngrayudan dan Giri Mulyo, Kecamatan Jogorogo, Ngawi.

Kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu ini kini telah merembet  hingga wilayah Kabupaten Magetan.

BPBD Provinsi Jatim, dibantu BPBD Magetan, Perhutani, TNI/Polri, sukarelawan, Lembaga Masyarakat Desa Hutan, dan warga Desa Ngiliran, Jabung, serta Bedagung di Magetan, juga membuat sekat bakar selebar 4 meter di Petak 51-56 Ngiliran, Magetan. Pembuatan sekat bakar ini sebagai antisipasi awal meluasnya kebakaran hutan di Lawu.

Berdasarkan data BPBD Jawa Timur, pada Minggu (1/10/2023) kemarin kecepatan angin rata-rata 30 km per jam pada sore hingga malam hari. Adapun kecepatan angin maksimal 40-45 km per jam. Arah angin yang dominan dari timur ke selatan membuat api merambat ke wilayah Kabupaten Magetan.

Menurut Kapolsek Jogorogo, AKP Nur Hidayat, sebanyak 310 personel dikerahkan untuk memadamkan api dari berbagai sisi walau kondisi medan sulit di jangkau. Di Jogorogo, petugas harus mengendarai sepeda motor dari pos pemadaman kebakaran hutan di Desa Ngrayudan hingga 5 km ke atas gunung. Setelah itu, mereka harus mendaki sepanjang 500 meter.

”Kami memadamkan dengan cara manual, yakni mengibaskan-ngibaskan daun-daun dan ranting di sepanjang jalur yang terbakar. Kami juga membuat sekat bakar agar api tak merambat ke bawah, yang merupakan kawasan hutan produksi,” kata Nur Hidayat.

Api merambat hingga hutan produksi yang berupa tegakan pinus, api akan lebih sulit dipadamkan dan bisa membahayakan karena kian dekat dengan pemukiman warga.

Pada titik tertentu, tambah Nur Hidayat, api berhasil dipadamkan, tetapi ternyata api muncul lagi di tempat lain.

”Karena itulah, kami butuh helikopter untuk memadamkan api karena beberapa titik tak bisa dijangkau,” katanya.