“Pemerintah Indonesia juga mengirim tim delegasi. Saya berharap tim ini dapat melaksanakan tugas dengan baik dan lancar di Libya serta kembali ke Tanah Air dengan selamat,” tambahnya.
Jalan yang Berliku
Proses menuju pelaksanaan misi pengiriman bantuan ini tak selamanya berjalan dengan mulus dan harus melewati jalan yang berliku. Koordinasi hingga negosiasi yang cukup panjang dilakukan antara pihak BNPB, Kemlu, KBRI, KJRI dengan Libya maupun maskapai penerbangan pada menit injury time. Ini juga yang menyebabkan mundurnya jadwal pengiriman bantuan dari waktu awal yang sudah direncanakan.
Sesuai rencana awal, Pemerintah Indonesia akan mengirimkan bantuan dengan maskapai domestik. Namun hal itu harus diurungkan karena berbagai hal di antaranya adalah maskapai domestik ternyata belum mengantongi asuransi penerbangan ke Libya. Jika terjadi kendala maka pihak maskapai tidak dapat mengklaim asuransi. Di samping itu maskapai domestik belum memiliki izin terbang di wilayah langit “Maghreb Afrika Utara”.
Setelah melalui proses yang cukup memakan waktu, pengiriman bantuan ini akhirnya dipercayakan kepada maskapai Terra Avia, yang dinilai memiliki persyaratan dan kelengkapan terbang serta dapat menjamin keseluruhan yang dibutuhkan dalam misi kemanusiaan ke Libya ini.
Terra Avia ini adalah maskapai milik Republik Moldova yang melayani sewa/carter maupun penerbangan berjadwal berbasis di Eropa Timur. Rata-rata, maskapai ini melayani carter untuk ibadah haji maupun umroh ke Tanah Suci, termasuk pengiriman kargo. Adapun pesawat yang digunakan berjenis Boeing 747-400 dengan ciri berwarna putih, lambung berwana biru tua dan terdapat gambar wajah harimau dibagian moncong pesawat.
Pesawat jumbo jet itu lepas landas pada pukul 03.38 WIB mengangkut rombongan beserta jenis bantuan yang meliputi tenda pengungsi 5 set, tenda keluarga 100 set, genset 2kVA 20 unit, velbed 1.000 unit, kasir lipat 500 buah, peralatan kebersihan 1.500 pak, pakaian anak 5.000 potong, pakaian dewasa 2.500 potong, pakaian dalam 2.000 potong, perkakas tukang 100 kit, kain kafan 1.000 lembar, kantong jenazah 1.000 lembar, lampu solar 30 unit, rendang kemasan 5.000 paket, susu protein 5.000 paket dan makanan siap saji 5.000 paket.
Kemudian untuk bantuan peralatan kesehatan meliputi alat kesehatan darurat 6 buah, perlengkapan higienis balita 65 paket, perlengkapan higienis ibu hamil 39 paket, perlengkapan higienis bayi 42 paket, disinfektan 60 paket, alat penyemprot disinfektan 15 unit, alat penyuling dan penjernih air 4 unit, MP ASI 1 ton dan PMT ibu hamil 1 ton.
Bantuan Tiba di Libya
Setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih 11 jam atau pukul 10.52 waktu Libya, bantuan kemanusiaan itu tiba di Bandara Internasional Benina, Benghazi, Libya. Awalnya bantuan ini direncanakan untuk dapat diturunkan di Tripoli yang berada di Libya Barat. Namun dengan berbagai aspek pertimbangan, maka pesawat kemudian diarahkan ke Benghazi, wilayah Libya Timur.
Setelah pesawat berhenti dengan sempurna, pihak ground handling dan kru kargo bandara segera bergegas membongkar isi perut burung besi yang bertengger di apron khusus kargo. Rombongan delegasi, sebagai representasi masyarakat Indonesia pun turun menuju ruang VIP bandara.
Di sana perwakilan Red Crescent Libya atau Palang Merah Libya telah menanti, termasuk KBRI, KJRI dan tim aju BNPB yang lebih dulu datang untuk mengurus segala persyaratan dan memastikan proses pengiriman bantuan dapat berjalan sesuai harapan.
