Sekretaris Utama BNPB Rustian dan Anggota DPR RI disambut hangat. Tanpa berlama-lama, upacara sakral serah terima barang bantuan itu dilaksanakan sesaat setelah rombongan menginjakkan kaki di Libya. Usai serah terima dilaksanakan, Sekretaris Utama BNPB menandatangani dokumen bersama Sekjen Red Crescent wilayah Benghazi, Libya, Omer Ali Budabous di gedung VIP Bandara Benina.
Mewakili masyarakat Libya, Sekjen Red Crescent wilayah Benghazi, Libya, Omer Ali Budabous mengatakan bahwa kehadiran delegasi Indonesia beserta bantuannya sangat berarti bagi masyarakat terdampak bencana di Libya. Atas bantuan itu, Omer Ali mengucapkan rasa terima kasih kepada masyarakat Indonesia atas kepeduliannya terhadap masyarakat Libya.
“Beberapa hal yang lalu terjadi bencana di daerah kita Derna, Libya. Masyarakat kami merasakan dampak bencana termasuk kerugian materi atau non materi. Sehingga kehadiran bantuan dari masyarakat Indonesia ini sendiri cukup berarti dan sangat membantu masyarakat kami yang terkena dampak bencana tersebu. Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia atas bantuan ini sehingga ini bisa membantu menenangkan masyarakat yang terdampak bencana yang ada di Libya,” ucap Omer Ali.
Kurang lebih tiga jam setelah proses bongkar muat dan penyerahan bantuan secara simbolis, rombongan delegasi beserta tim aju langsung pamit kembali ke Tanah Air. Menggunakan pesawat yang sama, rombongan tersebut terbang menuju Turki untuk transit dan melanjutkan kepulangan ke Indonesia di hari berikutnya.
Belajar dari Libya
Berkaca dari tragedi jebolnya bendungan raksasa Libya, tentunya hal itu dapat dijadikan ‘alarm’ bagi Indonesia yang juga memiliki bendungan, waduk, dam dan juga embung di hampir seluruh provinsi.
Jika merujuk data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) per Mei 2023, jumlah bendungan di Indonesia ada sebanyak 235 unit, yang mana paling banyak terdapat di Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bendungan itu selain dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTU) juga berguna untuk mengairi sawah, air bersih, perikanan darat maupun obyek wisata.
Dengan banyaknya keberadaan bendungan di Tanah Air maka seluruh pihak harus dapat menjaga agar manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat, terlepas pembangunan termasuk konstruksinya dipastikan telah dilaksanakan dan diperhitungkan secara matang oleh pihak-pihak dengan sangat profesional.
Guna menjaga bendungan agar tetap dapat bermanfaat dan mengurangi risiko bencana, butuh sinergitas antara instansi terkait dan masyarakat dalam melakukan pemeliharaan.
Sinergi itu dapat dilakukan dengan cara terus menggalakkan reboisasi, tidak melakukan praktik deforestasi, tidak mendirikan bangunan di sepanjang bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS), tidak membuang sampah di sungai, lebih bijak dalam menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari, tidak mencemari lingkungan sungai, melakukan monitoring tanggul maupun sungai, bergotong-royong membersihkan sungai dan memantau secara berkala prakiraan cuaca dari instansi terkait.
