Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Kedaulatan Pangan untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia

Dalam pusaran sistem ekonomi dan liberalisasi pasar saat ini pun, subsidi dari pemerintah khususnya Kementerian Pertanian seperti subsidi pupuk, benih, dan alat mesin pertanian yang anggarannya berkisar Rp 40 triliun hingga Rp 45 triliun per tahun dalam tiga tahun terakhir belum terbukti efektif untuk mendongkrak kesejahteraan perani karena ada persepsi bahwa subsidi dan bantuan tersebut justru menyejahterakan perusahaan-perusahaan benih, pupuk bahkan alat mesin pertanian sedangkan Petani sebagai Kelas Menengah Produktif justru kembali mengalami kendala dalam menentukan nilai hasil produksinya dan mengakses pasar. Dengan sendirinya, Petani berusaha bangkit secara mandiri, berdikari dan berbasis pada kearifan lokal masing-masing wilayahnya dengan membangun basis-basis produksi Petani baik secara hulu bahkan sampai hilir.

Karena sistem Kedaulatan Pangan Nasional belum mencapai yang dicita-citakan, maka perlu sebuah perubahan sikap dan atau pola pikir para Petani, untuk mengintroduksi teknologi tepat guna dalam penanganan pascapanen dan menyelenggarakan sistem jaminan mutu hasil produksi Petani pada basis-basis produksi Petani baik dari hulu maupun sampai hilir.

Gerakan Industrialisasi Pangan Nasional Berbasis Kerakyatan sebuah cita-cita untuk mewujudkan kedaulatan pangan berbasis kearifan lokal dan agrobisnis kerakyatan dalam Negara Gotong Royong maka sudah saatnya memulai sebuah reorientasi paradigma Petani dan Negara Gotong Royong sebagai berikut :

1.) Individu Petani ke Kelompok Petani ; ini merupakan salah satu kendala yang di hadapi Petani di Indonesia dalam mengembangkan usaha produksi pangan adalah keterbatasan lahan, peralatan, modal dan akses terhadap pasar. Kelompok Petani ini merupakan Kelompok Menengah Produktif Petani.

2.) Petani Produsen Menjadi Petani Pemasok ; restrukturisasi paradigma Petani selanjutnya adalah menyangkut peranan Petani di mana selama ini Petani hanya memposisikan diri sebagai produsen semata, menjual apa yang diproduksi, maka orientasi ke depan harus memproduksi apa yang bisa dijual di mana dalam konteks ini Petani naik kelas jadi pemasok. Karena jika terlibat lebih jauh sebagai pemasok langsung ke konsumen atau pasar, maka Petani akan memperoleh Nilai Tambah Petani yang lebih besar.

3.) Sistem Budi Daya Petani ke Sistem Produksi Pangan Petani ; paradigma yang selama ini terjadi bahwa Petani hanya berputar pada sistem budi daya saja, akan tetapi dalam gerakan ini sudah saatnya petani tidak hanya berputar pada sistem budi daya saja melainkan sudah membangun pada sistem produksi pangan berbasis pada kelompok dan atau komunitas Petani untuk menjaga keberlanjutan bahan baku produksi.

4.) Dari Pola Petani-Tengkulak Ke Pola Petani Akses Pasar.

Bagaimana mewujudkan Kedaulatan Pangan Untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia dalam Negara Gotong Royong maka harus berani melakukan perubahan yang mendasar dalam berbagai sektor penyelenggaraan Negara, yaitu:

1.) Sektor Pertanian dan Kelautan ; penyelenggaraan produksi pangan berbasis agraris dan maritim harus mengandalkan sumberdaya manusia yang terus diperbaiki mutunya agar bahan pangan yang dihasilkan mempunyai nutrisi yang terus meningkat untuk membentuk generasi penerus bangsa yang bernalar lebih baik. Kebijakan-kebijakan sektor pertanian dan kelautan itu harus berorientasi pada produksi pangan berkelanjutan, menjamin keberlangsungan ekologi, dan membentuk tata perekonomian yang berkeadilan dan tidak bersifat eksploitatif antara para pelaku satu dengan lainnya.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita