Kritik yang disampaikan oleh Mahfud MD menyoroti masalah matematis dalam skema Tapera. Ia mencatat bahwa dengan menabung melalui Tapera selama 30 tahun, hasil yang didapatkan tidak cukup untuk membeli rumah, mengingat harga properti yang terus naik. Misalnya, seorang pekerja dengan gaji Rp5 juta per bulan hanya akan mengumpulkan sekitar Rp100 juta dalam 30 tahun. Dengan harga rumah yang terus meningkat, jumlah ini jelas tidak mencukupi untuk membeli rumah yang layak di masa depan. Hal ini menunjukkan perlunya revisi terhadap skema tabungan dan bunga yang ditawarkan dalam program Tapera agar lebih realistis dan sesuai dengan perkembangan harga properti.
Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah jaminan bahwa peserta Tapera akan mendapatkan rumah. Tanpa adanya kebijakan yang memastikan setiap penabung mendapatkan rumah, ketidakpastian ini dapat menimbulkan resistensi dari pekerja. Pemerintah perlu mengembangkan mekanisme yang jelas dan dapat dipercaya untuk menjamin bahwa setiap peserta program Tapera akan mendapatkan manfaat nyata berupa akses ke perumahan yang layak. Kebijakan ini harus dipublikasikan secara luas dan dijelaskan dengan rinci kepada para pekerja.
Selain itu, mekanisme pengawasan dan regulasi yang ketat diperlukan untuk memastikan bahwa program ini berjalan sesuai dengan tujuannya. Komite Tapera yang terdiri dari perwakilan kementerian/ lembaga dan unsure professional harus memastikan bahwa pengelolaan dana dan implementasi program berjalan dengan baik. Pengawasan yang kurang ketat dapat menyebabkan penyalahgunaan dana dan penyimpangan dari tujuan awal program.
Perlunya sosialisasi yang efektif juga menjadi hambatan yang harus diatasi. Banyak pekerja mungkin belum memahami sepenuhnya manfaat dan mekanisme program Tapera. Pemerintah harus melakukan kampanye sosialisasi yang intensif dan informative untuk memastikan bahwa semua pekerja memahami tujuan, manfaat, dan cara kerja program ini. Sosialisasi yang baik akan meningkatkan partisipasi pekerja dan mendukung keberhasilan program.
Terakhir, koordinasi antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pemberi kerja, dan pekerja, sangat penting untuk keberhasilan Tapera. Pemerintah harus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan bahwa kebijakan yang diimplementasikan selaras dengan kebutuhan dan harapan pekerja. Dialog dan komunikasi yang terbuka antara semua pihak akan membantu mengidentifikasi masalah dan mencari solusi yang efektif.
Secara keseluruhan, keberhasilan Tapera sangat bergantung pada bagaimana program ini dirancang dan diimplementasikan. Pemerintah perlu memastikan bahwa beban yang ditanggung pekerja sebanding dengan manfaat yang diterima. Dengan mengatasi tantangan dan hambatan ini, Tapera memiliki potensi besar untuk meningkatkan akses perumahan dan kesejahteraan pekerja di Indonesia. Kritik dan masukan dari berbagai pihak, seperti yang disampaikan oleh Mahfud MD, harus diakomodasi untuk memperbaiki dan menyempurnakan program ini. Dengan pendekatan yang tepat, Tapera bias menjadi solusi efektif dalam mengatasi masalah perumahan di Indonesia.

