Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Rangking Jokowi dan Prabowo Dalam Sejarah Presiden Indonesia

Rangking Jokowi dan Prabowo Dalam Sejarah Presiden Indonesia

Tujuan dari program ini untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak. Program ini juga mengurangi angka malnutrisi, serta meningkatkan prestasi akademis dan kehadiran di sekolah.

Sejarah juga menyediakan contoh program makan siang gratis yang sukses dan juga yang gagal.

Contoh program makan siang gratis yang sukses hadir di Jepang. Program ini didesain dengan baik, dengan menu yang seimbang dan sehat, disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak-anak.

Program ini didukung penuh oleh pemerintah dan telah menjadi bagian dari sistem pendidikan selama beberapa dekade.

Selain menyediakan makanan, program ini juga mengajarkan anak-anak tentang pentingnya pola makan sehat.

Orang tua dan komunitas sekolah turut serta dalam program ini, membantu dalam persiapan dan penyediaan makanan.

Ukuran Keberhasilan adalah peningkatan kesehatan, penurunan angka malnutrisi dan obesitas pada anak-anak.

Juga itu diukur dengan prestasi akademis siswa. Berlangsung pula penurunan angka ketidakhadiran siswa karena penyakit yang terkait dengan gizi buruk.

Sedangkan contoh program makan siang gratis yang gagal terjadi di India. Mengapa gagal?

Itu karena kurangnya fasilitas dapur yang memadai, kualitas makanan yang buruk, dan ketidakdisiplinan dalam penyediaan makanan.

Terjadi pula korupsi dan penyalahgunaan dana yang seharusnya digunakan untuk program makanan.

Kasus-kasus keracunan makanan karena sanitasi yang buruk dan pengawasan kualitas yang kurang ketat juga terjadi.

Program ini di India juga tidak diterapkan secara merata di seluruh wilayah. Beberapa daerah tidak mendapatkan manfaat yang sama.

-000-

Tulisan ini dibuat tahun 2024. Sedangkan 2045 itu masih dua puluh tahun lebih ke depan. Banyak hal yang mungkin terjadi, yang tak bisa dianalisis dengan mata masa kini.

Tapi Jokowi dan Prabowo sudah memiliki maskot program utama: kebijakan publik IKN dan Makan Siang (Bergizi) Gratis. Sisanya tergantung dari komitmen pemimpin politik, birokrasi yang kompeten, dan tersedianya dana APBN.

Jika dalam satu periode pemerintahan berlangsung begitu banyak program berbiaya sangat tinggi, kendala yang ada acapkali bukan pada komitmen politik, tapi ketersediaan dana APBN.

Pertanyaannya apakah IKN dan makan siang gratis, kedua kebijakan publik ini dapat meluncur bersama, tertampung oleh APBN yang kini ada? Jika tak tertampung di APBN, seberapa luas investasi pihak swasta bisa dimobilisasi untuk meluncurkan keduanya, IKN dan makan siang gratis, sekaligus?

Buku ini berisi banyak lagi opini mengenai tokoh presiden Jokowi, Prabowo, dan isu seputarnya. Sebanyak 74 tulisan, umumnya dari Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena. Banyak juga penulis di luar asosiasi penulis itu.

Pemilu presiden terlalu besar jika hanya diserahkan kepada para politisi, dan partai politik. Publik luas, pengusaha, civil society, termasuk para penulis juga perlu bersuara, menyatakan sikapnya.

Ini juga kutipan seorang penulis:
“Sebuah mahakarya yang lahir dari renungan batin terdalam selalu mampu melampaui waktu, dan menjadikan sang penciptanya abadi di hati manusia.”

Penulisnya bernama Virginia Wolf, di tahun 1925. Mahakarya ini tak hanya untuk karya sastra atau seni. Kita menafsirnya, ini juga bisa diterapkan untuk karya sejenis kebijakan publik yang diciptakan pemimpin seperti presiden.

Seorang presiden juga bisa abadi dalam memori kolektif manusia, atau sebagian penduduk, jika ia meninggalkan legacy dengan program utama, kebijakan publik yang mengubah masyarakatnya. *

CATATAN

(1) Arthur Shiclesinger, Sr merintis rangking kinerja para presiden dalam sejarah.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita