Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL MOJOKERTO

Gaung Puncak Peringatan Bulan PRB 2025 Menggema di Trowulan, Bendera Pataka Diboyong ke Ujung Barat Pulau Jawa

Gaung Puncak Peringatan Bulan PRB 2025 Menggema di Trowulan, Bendera Pataka Diboyong ke Ujung Barat Pulau Jawa

MOJOKERTO, KANALINDONESIA.COM: Genderang puncak peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2025 menggema di “Bumi Majapahit”, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (2/10) malam. Hamparan luas lapangan Trowulan menjadi saksi kebersamaan ribuan insan penanggulangan bencana dari berbagai penjuru Indonesia.

Suasana penuh semangat dan kehangatan begitu terasa ketika pemerintah, relawan, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum berkumpul untuk merayakan sekaligus meneguhkan komitmen dalam membangun ketangguhan bangsa menghadapi ancaman bencana.

Serangkaian acara puncak peringatan Bulan PRB 2025 ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan momentum bersama untuk menguatkan sinergi. Berbagai kegiatan mulai dari pameran inovasi kebencanaan, diskusi publik, gelar budaya, penanaman pohon, fun run for resilience, hingga simulasi kesiapsiagaan melibatkan partisipasi aktif warga. Semua hadir dengan semangat belajar, berbagi pengalaman dan saling menguatkan.

Peringatan PRB tahun ini mengusung semangat bahwa pengurangan risiko bencana bukan hanya tugas pemerintah semata, melainkan gerakan bersama. Dengan mengedepankan kearifan lokal, inovasi teknologi dan kolaborasi multipihak, diharapkan lahir masyarakat yang semakin tangguh.

Melalui rangkaian peringatan Bulan PRB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai inisiator bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa investasi terbaik dalam penanggulangan bencana adalah membangun kesiapsiagaan sejak dini. Lewat momentum ini, Mojokerto tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga simbol semangat gotong royong Indonesia dalam menghadapi bencana.

Surya Majapahit Bersinar di Langit Trowulan

Kabupaten Mojokerto yang dipilih sebagai tuan rumah puncak peringatan Bulan PRB tahun ini bukan secara kebetulan, melainkan sarat akan makna. Mewakili provinsi tuan rumah, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak sempat menyinggung tentang “Surya Majapahit” yang dapat dimaknai sebagai simbol kejayaan masa lalu yang terpahat dalam sejarah Mojokerto sebagai Bumi Majapahit.

Surya yang bersinar dengan delapan sinarnya itu menjadi lambang arah kekuatan. Sama halnya dengan masyarakat hari ini. Sinar itu dimaknai sebagai arah ketanguhan, kesiapan, kepedulian, gotong royong, pegetahuan, inovasi, kearifan lokal, keberanian dan harapan. Delapan cahaya itu menuntun bangsa agar tetap berdiri kokoh di tengah ancaman bencana.

“Nilai-nilai ini yang akan kita lestarikan, sebagai tempat semangat dan ketangguhan Majapahit. Semoga menjadi simbol ketangguhan bencana di seluruh tanah air,” ucap Emil.

Menko PMK Ajak Masyarakat Budayakan Pencegahan Bencana

Berikutnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Pratikno turut mengajak seluruh hadirin yang hadir untuk menjadikan upaya pencegahan bencana menjadi sebuah budaya. Pencegahan itu menurut Pratikno dapat dimulai dari hal yang paling sederhana seperti membuang sampah sembarangan.

“Bencana itu memang bisa datang dengan tidak terduga. Tapi ada jenis bencana seperti banjir kita bisa cegah beberapa waktu sebelumnya,” ungkap Pratikno.

“Tapi tolong kita cegah bencana. Yang sederhana saja. Coba kita buang sampah sembarangan. Kita jaga sungai agar tidak banjir karena sampah,” imbuhnya.

Doa Bersama

Suasana lapangan yang semula riuh, menjadi hening dan penuh khidmat setelah Wakil Gubernur Jawa Timur maupun Menko PMK bersama-sama menyelipkan pesan kepedulian di dalam sambutannya.

Dengan suara yang tenang dan sarat akan empati, keduanya mengajak hadirin yang hadir untuk berdoa bersama atas beberapa kejadian bencana yang melanda wilayah Jawa Timur, seperti gempabumi bermagnitudo (M) 5,7 Banyuwangi, Gempabumi M 6,5 Sumenep dan yang masih dalam penanganan yakni bencana kegagalan teknologi yang menimpa para santri di pondok pesantren Al Khoziny.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita