“Suasana yang prihatin ini, mari kita doakan semua petugas semoga diberikan keselamatan. Kepada keluarga korban yang terdampak diberikan kekuatan dan yang kepada yang berpulang khusnul khotimah,” ucap Emil Dardak.
“Mohon doanya, semoga bencana semacam ini tidak terulang di kemudian hari. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang selalu tampil untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat di tengah kondisi darurat bencana,” kata Pratikno.
Momentum itu sekaligus menghadirkan rasa kebersamaan yang nyata bahwa di balik peringatan Bulan PRB 2025, ada makna kemanusiaan yang tak boleh lepas. Bencana memang dapat terjadi dan datang kapan saja. Hanya dengan hati yang bersatu bangsa ini akan tetap tangguh.
Bendera Pataka Diboyong ke Banten
Di penghujung rangkaian puncak acara, Letjen TNI Suharyanto S.Sos., M.M., sebagai pucuk pimpinan tertinggi penanggulangan bencana di Indonesia menyerahkan bendera pataka dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada Pemerintah Provinsi Banten.
Momentum penutupan itu sekaligus menjadi penanda bahwa peringatan Bulan PRB tahun 2026 akan dilaksanakan di Provinsi Banten. Bendera pataka pun berpindah dari ujung timur dan secara resmi diboyong menuju ujung barat Pulau Jawa.
Hari ini, Mojokerto mengajarkan satu hal penting, bahwa penguangan risiko bencana adalah tentang kebersamaan. Tentang pemerintah yang hadir mendukung, komunitas yang bergotong-royong, anak-anak yang belajar sejak dini hingga masyarakat yang tak pernah berhenti menjaga alamnya.
Terima kasih Mojokerto, Jawa Timur! Selamat datang Banten! Mari jaga bumi Indonesia seisinya! Salam Tangguh! Salam Kemanusiaan!

