Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL PONOROGO

Jeritan Hati Sang Pembela: Ruskamto, Sajak Pilu Perjuangan Sunyi Guru Honorer

Jeritan Hati Sang Pembela: Ruskamto, Sajak Pilu Perjuangan Sunyi Guru Honorer

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Di tengah hingar-bingar genderang perayaan akbar Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional, yang diwarnai puji-pujian dan janji-janji manis, tersemat sebuah melodi duka yang menusuk kalbu. Inilah kisah tentang Ruskamto, Ketua PGRI Kabupaten Ponorogo, sang pembela sejati yang memilih jalan sunyi, berdiri tegak di tengah badai untuk memperjuangkan nasib para pahlawan tanpa tanda jasa yang seolah terlupakan, guru honorer.

Bukan sorotan lampu yang ia damba, bukan pula tempat empuk di panggung kekuasaan. Dengan jiwa yang bersih dan nurani yang paling tulus, Ruskamto menanggalkan jubah kemewahan sanjungan, menjauhi gelimang puja-puji yang kerap menjadi perangkap bagi para penjilat.

Ia memilih takdir sebagai perisai bagi kaum lemah, menyalurkan jeritan hati yang tercekik sunyi.

Pentas perjuangan itu digelar di Alun-Alun Ponorogo, pada Sabtu,( 6/12/2025). Apel peringatan HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional menjadi saksi bisu. Di sana, di bawah kobaran mentari yang seolah ikut menyengat, Ruskamto berdiri, sebatang kara, memanggul beban ribuan harapan.

Peluh membasahi kemejanya, bukan hanya karena terik yang membakar, tetapi juga karena gejolak emosi yang mengaduk batin.

Di hadapan ribuan guru yang menyimak, pidatonya mengalir deras, berbeda dari retorika formal yang dingin. Itu adalah sebuah manifes yang lahir dari lubuk jiwa yang terdalam, sebuah sajak pilu yang mengetuk pintu sanubari setiap insan yang masih memiliki hati.

Ketika ia mulai merangkai diksi tentang guru honorer mereka yang menabur benih ilmu tanpa batas, namun harus memanen buah ketidakpastian dalam hidup terlihat jelas pergulatan batin yang hebat. Suaranya, yang tadinya lantang dan berwibawa, tiba-tiba tercekat, serak, dan berat. Seolah ada bongkahan pilu, sebongkah harapan yang hancur, yang tertahan di tenggorokan mulianya.

Mata Ruskamto mulai berkaca-kaca, memantulkan bayangan pahit perjuangan tak berujung, bayangan wajah-wajah tulus yang tak pernah menuntut, namun terus mengabdi dengan sisa-sisa tenaga. Dalam momen hening yang sarat makna itu, ia bukan lagi berbicara sebagai seorang Ketua organisasi yang berjarak, melainkan sebagai sahabat seperjuangan yang merangkul dan memahami betul getirnya janji-janji yang menggantung tanpa kepastian.

“Sebagai seorang ayah, kami sangat bersedih,” ujarnya, dengan nada yang menembus batas-batas formalitas pidato yang kaku.

Nada itu adalah pengakuan jujur seorang pemimpin yang merasakan luka anggotanya sebagai lukanya sendiri.

Dengan kerendahan hati yang menampar keangkuhan, ia mengakui bahwa perjuangan untuk mengentaskan nasib mulia para guru honorer belumlah menemukan dermaga.

“Kami belum berhasil memperjuangkan nasib panjenengan,” katanya, sebuah pengakuan yang bukan kelemahan, melainkan bukti betapa besar beban tanggung jawab dan janji yang ia pikul di pundaknya.

Pada puncak permohonannya, Ruskamto melepaskan segala keangkuhan dan atribut jabatan. Ia merangkai kata dalam sebuah doa yang tulus, memohon kepada seluruh pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan di daerah untuk membuka mata nurani dan pintu hati.

Permintaan ini bukan dilandasi ambisi duniawi atau politik, melainkan dorongan murni untuk tegaknya keadilan.

Ia memohon agar pemerintah daerah dan pejabat pengambil kebijakan selalu menyimpan dan mengingat nasib serta kesejahteraan para guru honorer dalam setiap helai keputusan yang mereka buat.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita