Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL BANJARNEGARA

Lonceng Kematian dari Pengamun-amun: Musnahnya Peradaban Legetang dalam Satu Malam

Lonceng Kematian dari Pengamun-amun: Musnahnya Peradaban Legetang dalam Satu Malam

BANJARNEGARA, KANALINDONESIA.COM: Kisah sejarah terkadang menyingkap banyak ceritera yang tak terduga-duga. Sejatinya, sejarah mengajak dan mengajarkan kita untuk belajar dari peristiwa-peristiwa itu. Salah satu wacana sejarah yang paling mengguncang dan sarat akan refleksi moral adalah tentang hilangnya Dukuh Legetang di Dataran Tinggi Dieng hanya dalam waktu semalam. Suatu narasi yang menjadi ironi sepanjang sejarah, di mana sebuah kemakmuran puncaknya justru berakhir pada pemusnahan massal yang tak menyisakan ruang bagi peradaban tersebut untuk bertahan.

Begitulah memori kolektif yang melekat di masyarakat tatkala menyebut Dukuh Legetang sebagai ‘Dukuh Sodom’. Kisah ironinya berbuntut pada kepercayaan rakyat Dieng tentang adanya azab yang menimpa rakyat Legetang yang kerap menyimpang, bak kaum Sodom yang dikisahkan dalam kitab suci. Barangkali, “Legetang adalah narasi tentang bencana yang tidak biasa,” tulis Anton Hendrawan, salah satu penulis yang terlibat dalam buku Bawana Winasis Dieng: Budaya Tak Terkatakan (2021).

Secara geografis, Dukuh Legetang semula memiliki kondisi tanah yang sangat subur, melebihi kesuburan tanah-tanah lain di kawasan sekitarnya. “Masyarakat menggantungkan kehidupan pada perkebunan,” imbuhnya. Kesuksesan panen bawang dan kentang di sana membuat warga Legetang hidup dalam kemewahan yang menonjol. Namun, di balik kemilau ekonomi tersebut, cerita gethak tular (dari mulut ke mulut) menyebutkan adanya dekadensi moral yang akut. Perjudian, prostitusi, hingga penyimpangan seksual diisukan marak terjadi. Bahkan, beredar cerita miris bahwa langgar atau mushala dukuh bukan lagi menjadi tempat sujud, melainkan tempat digelarnya meja judi.

Nahas, segala keindahan lanskap itu berubah tatkala pada 17 April 1955, bencana mengerikan menimpa mereka. Malam itu, sekira pukul 23.00 WIB, saat hujan lebat mengguyur tanpa ampun, tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti benda besar jatuh dari langit. Suara ini menggelegar dahsyat hingga ke desa-desa tetangga seperti Pekasiran dan Kepakisan. Namun, meski suara itu memicu ketakutan luar biasa, tak ada warga yang berani keluar untuk mengidentifikasi gemuruh yang menerpa Legetang di tengah kegelapan pekat.

Ketika fajar menyingsing, warga sekitar terperanjat melihat pemandangan yang mustahil: Dukuh Legetang telah hilang, rata dengan tanah, dan berubah menjadi sebuah gundukan tanah raksasa menyerupai bukit. Gunung Pengamun-amun yang berdiri di dekatnya tampak rompal, seakan sebagian puncaknya telah dicabut dan dipindahkan. Bencana ini diperkirakan mengubur 351 warga, termasuk 19 tamu dari luar desa, dan konon hanya menyisakan satu orang selamat yang kisahnya hingga kini masih diselimuti misteri dan kesimpangsiuran.

Secara ilmiah, hilangnya Legetang dijelaskan sebagai katastrofe geologi yang luar biasa. Gunung Pengamun-amun secara struktural terdiri dari material vulkanik muda yang gembur dan tidak terkonsolidasi dengan kuat. Curah hujan ekstrem selama berhari-hari menjenuhkan tanah, meningkatkan tekanan air pori hingga mencapai titik jenuh yang memicu longsoran raksasa.

Keanehan yang sering dianggap mistis—yaitu longsoran yang melompati jurang dan sungai—dalam sains dikenal sebagai fenomena air-cushion landslide. Massa tanah dalam volume jutaan meter kubik yang meluncur dari ketinggian dengan kecepatan tinggi dapat terjebak di atas bantalan udara. Hal ini menciptakan gaya angkat yang memungkinkan massa tanah tersebut meluncur secara horizontal melintasi lembah tanpa menyentuh dasar jurang, sebelum akhirnya menghujam sasaran di seberangnya dengan daya tekan yang masif. Inilah alasan mengapa lahan di antara kaki gunung dan pemukiman tetap utuh tanpa tertimbun tanah.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita