Taufiqurrohim dalam Journal of Islamic Civilization (2020) menguatkan sisi keagamaan dari tragedi ini. Ia mencatat adanya perilaku menyimpang seperti maraknya perjudian dan kurangnya praktik keagamaan. “Setiap malam, mereka mengadakan tarian erotis (Lengger yang disimpangkan) dan pada malam bencana, mereka melakukan kegiatan yang dilarang itu,” sebutnya. Bagi masyarakat lokal, tragedi ini identik dengan sejarah kota Pompeii yang luluh lantak oleh Gunung Vesuvius sebagai bentuk “pembersihan” alam.
Kini, sebuah tugu beton berdiri kokoh menjulang di tengah ladang kentang, menjadi saksi bisu terkuburnya ratusan warga yang disebut penghuni “Dukuh Sodom”. Tugu tersebut menjadi pengingat sejarah kelam dengan plat logam bertuliskan: “Tugu peringatan atas tewasnja 332 orang penduduk Dukuh Legetang. Serta 19 orang tamu dari lain-lain desa. Sebagai akibat longsornja Gunung Pengamun-amun pada tg. 16/17-4-1955.”
Keyakinan agama kian menguat seiring munculnya ingatan kelam yang menyerang kondisi psikologis masyarakatnya. Sejarah telah menjadi ajang pembelajaran bagi warga di kawasan Pekasiran yang membawa trauma masa lalu. Alhasil, peristiwa hilangnya Dukuh Legetang dalam waktu semalam ini bukan sekadar catatan geologi, melainkan hikmah mendalam dan memori kolektif tentang hubungan antara manusia, etika, dan kekuatan alam yang tak terelakkan.

