“Saya melihat memang kepengurusan direksi yang sekarang ini sangat bagus. Jadi lompatan-lompatannya cukup signifikan. Yang awal mulanya ya dividennya sekitar di angka Rp1 miliaran, tapi bisa melonjak ke angka Rp2 miliar sampai dengan Rp3,2 miliar. Nah ini tentu harus kita apresiasi karena kalau bagus ya kita bilang baguslah,” ujarnya.
Meski kinerjanya dipuji, Adam menegaskan bahwa proses persetujuan anggaran tidak akan dilakukan atas dasar asumsi semata. Ia mengibaratkan proses tersebut seperti manajemen keuangan rumah tangga yang harus sangat selektif.
“Ibaratnya ini pengajuan ibu rumah tangga kepada bapak rumah tangga, kita setujunya berapa kan tergantung kita juga. Jadi Rp300 miliar ini bukan angka pasti, itu kan masih pengajuan,” tuturnya.
Ia kembali menegaskan, Komisi C menuntut adanya business plan yang jelas sebelum mengetok palu persetujuan. DPRD ingin memastikan setiap rupiah penyertaan modal memberikan timbal balik bagi daerah, sekaligus memperluas jangkauan penjaminan bagi UMKM di Jatim.
“Nanti kita kan pasti juga melakukan analisa, kira-kira kalau kita nambah sekian, Anda bakal dapat memberikan dividen kita per tahun berapa. Business plan akan kita bahas secara matang dan maksimal,” pungkas Adam. Nang

