MADIUN, KANALINDONESIA.COM: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun kini tengah mewaspadai dampak fenomena El Nino yang memicu kekeringan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan pemetaan terbaru, terdapat empat kecamatan yang masuk kategori rawan kekeringan, yakni Dagangan, Wungu, Saradan, dan Pilangkenceng.
Wilayah-wilayah tersebut umumnya berada di daerah pinggiran dengan topografi miring serta ketersediaan sumber air yang terbatas.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, Zainul Aripin, menegaskan bahwa keempat wilayah tersebut menjadi perhatian utama pemerintah.
Sebagai langkah mitigasi, Pemkab Madiun telah mengajukan permohonan bantuan pembangunan 20 titik sumur sibel kepada Kementerian Pertanian. Penggunaan teknologi pompa submersible ini dipilih karena dinilai jauh lebih efisien dalam mengangkat air tanah dari sumur bor dalam berukuran 2-4 inci.
Zainul merincikan progres usulan tersebut sebagai berikut 10 titik sudah memasuki tahap pemberkasan, sedangkan 10 titik lainya saat ini masih dalam proses identifikasi Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL).
Selain sumur bor, Pemkab juga mengusulkan perbaikan jaringan irigasi ke pemerintah pusat guna memperkuat ketahanan air sektor pertanian. Langkah ini diambil karena keterbatasan anggaran daerah (APBD) yang menjadi kendala utama dalam merealisasikan perbaikan secara mandiri.
“Tahun ini, APBD Kabupaten Madiun hanya mampu mengakomodasi rehabilitasi jaringan irigasi tersier di enam titik, yang tersebar di Kecamatan Dagangan, Nglandung, Purworejo, Kaibon, dan Pagotan,” jelas Zainul.
Menghadapi cuaca ekstrem ini, para petani diminta untuk lebih adaptif dalam mengelola lahan mereka. Zainul menyarankan penerapan pola tanam yang lebih efisien agar petani tetap bisa meraup keuntungan meski di tengah musim kemarau.
Rekomendasi yang diberikan meliputi penggunaan benih padi berumur pendek (genjah) dan enerapan pola tanam padi — padi — palawija.

