PHDI Didorong Lebih Strategis
Dalam forum tersebut, Letjen Cantiasa memaparkan lima dimensi yang dapat menjadi landasan bagi PHDI dalam memperkuat perannya di tengah masyarakat.
Pertama, preventif, melalui deteksi dini terhadap potensi persoalan bernuansa SARA serta peningkatan literasi digital untuk menangkal hoaks.
Kedua, kuratif, dengan mendorong PHDI berperan sebagai mediator dan membuka ruang komunikasi serta dialog ketika terjadi persoalan di tengah masyarakat.
Ketiga, rehabilitatif, melalui dukungan terhadap pemulihan psikososial dan rekonsiliasi masyarakat pascakonflik.
Keempat, kolaboratif, dengan memperkuat sinergi bersama FKUB, Kesbangpol, TNI/Polri, tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Kelima, edukatif, dengan mempersiapkan generasi muda Hindu sebagai agen perubahan yang moderat serta memahami nilai Tat Twam Asi dalam kehidupan bermasyarakat.
Mantan Danjen Kopassus tersebut juga mengapresiasi ketangguhan umat Hindu dan masyarakat Sulawesi Tengah dalam menjaga toleransi serta kerukunan di tengah berbagai tantangan.
Menurutnya, solidaritas lintas agama merupakan modal penting dalam menjaga stabilitas sosial. Peran FKUB juga dinilai penting dalam mempertemukan berbagai unsur masyarakat dan membangun komunikasi ketika muncul persoalan yang berpotensi mengganggu kerukunan.
“Kita tidak dapat mengubah sejarah, tetapi kita dapat menentukan pelajaran apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Letjen I Nyoman Cantiasa, yang pernah menjabat sebagai Wakil Kepala BIN.

