Cerita film ini berpusat pada Mukidi, tokoh yang diperankan Heri Chandra. Kehidupan Mukidi berubah setelah rencana pernikahannya berantakan.
Dalam situasi yang tidak mudah tersebut, Mukidi justru bertemu Sukma, perempuan misterius dari alam berbeda yang diperankan Dara Sarasvati.
Pertemuan keduanya berkembang menjadi hubungan yang tidak biasa. Perbedaan dunia yang mereka tempati memunculkan berbagai persoalan, sekaligus situasi komedi yang menjadi warna utama film.
Namun, cerita tidak hanya berhenti pada hubungan asmara antara manusia dan makhluk dari alam astral. Perjalanan Mukidi juga menggambarkan bagaimana seseorang menghadapi persoalan, memahami pilihan hidup, dan belajar menerima kenyataan.
Dara Sarasvati mengaku memiliki tantangan tersendiri ketika memerankan Sukma. Karakter sebagai sosok dari alam astral menuntut pengaturan gestur tubuh dan pengendalian emosi agar penampilannya berbeda dari karakter manusia biasa.
Sementara itu, Gabriella Desta turut memperkuat jajaran pemain setelah mendapatkan tawaran langsung dari penulis skenario.
Ito sendiri mengaku bahwa menggarap film drama menjadi pengalaman baru baginya. Ia harus membangun pendekatan berbeda dalam mengarahkan pemain, terutama ketika menghadapi adegan yang membutuhkan penghayatan emosional.
Ia berusaha menjaga keseimbangan antara komedi dan drama agar penonton tetap terhibur, tetapi juga dapat merasakan kedalaman cerita.
Bahasa Jawa Kental, Pesannya Bisa Dinikmati Seluruh Indonesia
Salah satu identitas yang menonjol dalam *Piye To Kih?* adalah penggunaan bahasa Jawa. Meski demikian, Ito menegaskan film tersebut tidak hanya ditujukan bagi masyarakat Jawa.
Menurutnya, nilai-nilai yang diangkat dalam cerita justru bersifat universal. Persoalan cinta, keluarga, persahabatan, dan perjuangan memperbaiki diri merupakan pengalaman yang dapat dirasakan siapa saja, tanpa dibatasi latar belakang daerah.
“Walaupun bahasa Jawa yang digunakan cukup kental, value yang kami bawa sebenarnya universal. Ada perjuangan, cinta, keluarga, dan persahabatan. Jadi, film ini bukan hanya untuk masyarakat Jawa, tetapi harapannya bisa dinikmati seluruh masyarakat Indonesia,” terangnya.
Ito berharap penonton dapat menikmati film tersebut terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Ia mengajak masyarakat untuk datang ke bioskop ketika film ini mulai ditayangkan secara nasional.
“Harapan kami sederhana, film ini bisa dinikmati terlebih dahulu. Mulai 19 November nanti, kami berharap masyarakat bisa datang beramai-ramai ke bioskop. Biarkan penonton sendiri yang menilai apakah film ini layak ditonton dan dinikmati bersama-sama,” ujarnya.
Roadshow Laris, Sejumlah Kota Kehabisan Tiket
Optimisme tim produksi terhadap penerimaan penonton bukan tanpa alasan. Ito menyebut rangkaian roadshow sebelumnya mendapat sambutan positif di sejumlah kota, seperti Solo, Yogyakarta, Magelang, Sragen, Ngawi, dan Madiun.
Dalam beberapa agenda pemutaran, tiket dilaporkan terjual habis sehingga sejumlah calon penonton tidak mendapatkan kesempatan menyaksikan film tersebut.
Antusiasme itu diharapkan menjadi pertanda baik bagi perjalanan promosi di kota-kota berikutnya, termasuk Ponorogo.
Menurut Ito, kekuatan film ini terletak pada perpaduan hiburan dan pesan kehidupan yang disampaikan secara ringan. Penonton bisa tertawa menikmati berbagai adegan komedi, tetapi pada bagian menjelang akhir cerita akan diajak masuk ke suasana yang lebih emosional.
Bahkan, ia berharap perjalanan cerita Mukidi dan Sukma mampu menyentuh perasaan penonton hingga membuat mereka terharu.
Di balik cerita supranatural yang diangkat, proses produksi film ini juga menyimpan pengalaman menarik. Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat.

