Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL SIDOARJO

Ini Penjelasan Ketua Yayasan SPPG Temu Soal Video Viral Menu Lele Belum Dimasak, Sesuai Juknis Badan Gizi Nasional

Ini Penjelasan Ketua Yayasan SPPG Temu Soal Video Viral Menu Lele Belum Dimasak, Sesuai Juknis Badan Gizi Nasional

SIDOARJO, KANALINDONESIA.COM – Video berdurasi 49 detik yang memperlihatkan dugaan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa dua ekor ikan lele mentah dan tempe di TK Dharmawanita Desa Temu, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, viral di media sosial.

Dalam video tersebut, pengunggah mempertanyakan kiriman dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Temu.

“Bagaimana ini kiriman dapur MBG Temu dikirim ke PAUD dan TK Dharmawanita Temu, dua ekor lele mentah dan tempe, ini kelalaian petugas apa bagaimana,” ucap pengunggah dalam video tersebut.

Namun, tak lama setelah video itu beredar, pengunggah menyampaikan permohonan maaf kepada Wahyu Sejati selaku Ketua Yayasan sekaligus penanggung jawab SPPG Temu 001. Ia mengakui tidak menampilkan keseluruhan menu yang diterima sekolah.

“Saya minta maaf atas tayangan video pendek itu. Saya tidak ada masalah dengan Pak Wahyu. Saya juga mengakui salah hanya mengunggah lauk tempe dan dua ekor lele saja, menu kelengkapan lainnya tidak saya unggah,” ujarnya.

Penjelasan Ketua Yayasan

Ketua Yayasan SPPG Temu, Wahyu Sejati, menegaskan bahwa distribusi menu tersebut telah sesuai dengan Petunjuk Teknis (Juknis) dari Badan Gizi Nasional.

Ia menjelaskan bahwa pada minggu tersebut, menu ikan lele memang didistribusikan dalam kondisi sudah dimarinasi dan siap digoreng kalau mau dikonsumsi, sebagai bagian dari praktik pengolahan sesuai standar teknis yang berlaku.

“Sudah kami sosialisasikan sebelumnya kepada pihak sekolah bahwa menu minggu ini merupakan praktik marinasi sesuai aturan teknis. Jadi memang dalam kondisi tertentu, lauk akan digoreng kembali sebelum dikonsumsi,” jelas Wahyu.

Menurutnya, informasi tersebut telah disampaikan kepada pihak sekolah dan pengelola dapur. Namun, diduga ada satu pihak yang tidak mengikuti sosialisasi secara utuh sehingga terjadi kesalahpahaman.

Wahyu juga menilai video yang beredar tidak menampilkan menu secara lengkap, sehingga menimbulkan persepsi seolah-olah siswa hanya menerima dua ekor lele dan tempe tanpa pelengkap lain.

“Kalau mau menyampaikan secara utuh, seharusnya ditampilkan lengkap seluruh menu. Kalau dilihat sekilas memang terkesan hanya itu yang diberikan, padahal tidak demikian,” tegasnya.

Mekanisme Distribusi dan Pengawasan

Wahyu menambahkan, seluruh proses distribusi MBG di SPPG Temu dilakukan berdasarkan kesepakatan waktu dengan pihak sekolah. Mekanisme distribusi juga mempertimbangkan hari efektif belajar dan kondisi khusus seperti bulan Ramadan.

Terkait pengawasan mutu, SPPG Temu memiliki quality control internal yang bertugas memastikan makanan layak konsumsi, sesuai standar kebersihan, gizi, dan keamanan pangan.

Apabila terdapat keluhan dari penerima manfaat, pihak SPPG membuka ruang komunikasi dan siap melakukan evaluasi.

“Kalau ada komplain, silakan disampaikan. Kami terbuka dan siap memperbaiki jika memang ada kekurangan. Prinsipnya, pelayanan kepada anak-anak harus tetap menjadi prioritas,” pungkasnya.

Dengan klarifikasi ini, pihak yayasan berharap masyarakat tidak terpengaruh informasi yang belum utuh, serta tetap mendukung pelaksanaan program MBG sesuai ketentuan teknis dari Badan Gizi Nasional. (*)

Editor : Irwan

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita